Friday, September 30, 2016

IIBF 2016: Kedubes Saudi Arabia Bagikan Buku dan Mushaf Al-Qur’an Gratis

Foto: IIBF 2016. (Foto: Artawijaya)
Jakarta – Kedutaan Besar Saudi Arabia di Jakarta membagikan buku-buku keislaman dan mushaf Al-Qur’an secara gratis di arena Indonesia International Book Fair (IIBF) 2016, Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta. Pengunjung yang berminat untuk mendapatkan buku-buku dan mushaf tersebut bisa langsung datang ke stand yang terletak tak jauh dari pintu masuk area pameran.
Hadiah tersebut dibagikan secara gratis sebagai upaya dari pihak Kedubes Saudi Arabia dalam menyebarkan mushaf dan buku-buku keislaman. Beragam tema dengan berbagai judul buku berbahasa Arab dan bahasa Indonesia bisa didapatkan tanpa ketentuan dan syarat apapun. Buku-buku yang dibagikan diantaranya bertemakan tentang akidah, fikih, ushul fikih, tafsir, sirah Nabawiyah, dzikir dan doa, kumpulan hadits Nabi SAW, dan lain sebagainya.
Sejak hari pertama pameran, stand Kedubes Saudi Arabia tak pernah sepi dari pengunjung. Mereka yang datang berkerumun di stand tersebut kebanyakan adalah para mahasiswa dan pelajar, guru, dan masyarakat lainnya yang tertarik untuk mendapatkan beragam hadiah yang disediakan. Di samping itu, mereka yang datang juga ingin mengetahui seluk beluk tentang Kerajaan Saudi Arabia dan kebudayaan-kebudayaan masyarakatnya.
Selain buku, mushaf Al-Qur’an dengan tampilan lux terjemahan dan non terjemah juga bisa didapatkan dengan cuma-Cuma. Pengelola stand juga menyediakan penulis khath (khaththath) bagi para pengunjung yang namanya ingin ditulis dalam kaligrafi Arab yang indah. Kaligrafi nama ditulis dalam selembar kertas khusus yang kemudian bisa dibawa pulang oleh pengunjung. “Buku-bukunya dan mushaf yang dibagikannya sangat bagus. Lumayan buat belajar lagi,” kata Wahyu, pengunjung asal Bekasi, yang rela berdesakan untuk mendapatkan beragam hadiah tersebut.
Hadiah  yang paling diincar oleh para pengunjung stand Kedubes Saudi Arabia adalah grand prize berupa 5 visa haji dan 75 beasiswa studi Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) yang tersebar di beberapa kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan, dan Makassar. Acara pameran berlangsung hingga hari Ahad (02/10).

Tuesday, September 27, 2016

Pemuda Masjid Ideal, Calon Takmir Masa Depan



Pemuda Masjid Ideal, Calon Takmir Masa Depan
SOLO, (Panjimas.com) – Seperti yang kita lihat di masjid sekitar tempat tinggal kita, bahwa takmir masjid hari ini adalah remaja masjid sekian tahun silam. Regenerasi takmir masjid sudah pasti harus dilakukan untuk pengelolaan masjid yang lebih baik ke depannya. Akan tetapi dewasa ini masjid-masjid kita sepi oleh kehadiran remaja atau pemuda. Kebanyakan mereka lebih banyak memiliki kesibukan di tempat lain yang membuatnya jarang berinteraksi di lingkungan masjid.
Untuk mengatasi hal ini, tentu dibutuhkan strategi untuk memberdayakan dan menyiapkan pemuda masjid yang siap melanjutkan estafet kepemimpinan masjid di masa depan. Yayasan Aitam bersama Majelis taklim Ahsana, P2M, dan JAMI (Jaringan Masjid Indonesia) menyelenggarakan Sarasehan Masjid Kita dengan tema “Menyiapkan Pemuda Masjid Ideal, Calon Takmir Masa Depan” yang mengundang KH. Jazier dari Masjid Jogokariyan, Jogjakarta.
Dalam perkembangannya Masjid Jogokariyan telah berhasil melakukan pengkaderan takmir masjidnya. Takmir masjidnya hari ini adalah hasil pengkaderan dari beberapa tahun silam, dan mereka juga telah menyiapkan pengganti untuk 10 tahun kedepan.
“Mengembalikan fungsi masjid seperti saat di jaman Rasulullah, seperti sebagai pusat pendidikan, pengajaran, dan ilmu pengetahuan, pusat peribadatan, mengatur kegiatan masyarakat, dll bisa dijadikan upaya memakmurkan masjid.”, tutur Ust. Jazier.
Dalam kesempatan itu pula ketua dewan syuro Masjid Jogokariyan ini menuturkan bahwa dalam pembinaan juga memerlukan beberapa strategi khusus. Mulai dari yang paling sederhana hingga ke tingkat yang lebih tinggi. Mensosialisasikan kegiatan masjid kepada warga dan lebih mendekatkan warga ke masjid juga dapat dijadikan cara agar mampu menciptakan ikatan dengan warga. Sebab tak sedikit pula warga yang merasa canggung untuk pergi ke masjid, karena belum terbiasa.
Serangkaian acara “Sarasehan Manajemen Masjid” yang diadakan di Masjid Abu Bakar, Laweyan Ahad (25/09) lalu itu mendapat respon positif dari ratusan takmir masjid yang datang ke acara tersebut. Dalam acara itu, Pemuda Muslim Solo Raya bersama Takmir masjid juga bersepakat untuk mendeklarasikan tiga pokok inti sarasehan yakni: melakukan gerakan bersama penguatan masjid, melakukan upaya-upaya gerakan penguatan dan pemberdayaan pemuda masjid di lingkungan masing-masing, dan mewujudkan masjid sebagai pusat peradaban manusia. Semoga melalui kesepakatan dan komitmen yang telah dibuat dapat menjadikan tonggak perubahan positif bagi masyarakat luas, khususnya untuk memakmurkan masjid dan managemen masjid yang lebih baik. [RN]

Sunday, September 25, 2016

Rezeki Tak Halal Sebabkan Malas Ibadah dan Mudah Maksiat

Setiap daging yang tumbuh dari yang haram maka neraka lebih pantas untuk menyentuhnya

Rezeki Tak Halal Sebabkan Malas Ibadah dan Mudah Maksiat
Dr. Abizal M. Yati Lc MA

Hidayatullah.com–
Mencari rezeki halal dengan cara bekerja merupakan salah satu ibadah kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Dengan memiliki harta, seseorang bisa memenuhi segala yang menjadi kebutuhannya baik sandang, pangan maupun papan.
Namun tak semua rezeki yang didapat berasal dari yang halal sehingga dampak menakutkan menikmati harta haram pun tak pernah terasa oleh mereka yang mendapatkannya. Diantara harta haram sehingga rezekinya tidak berkah yang diperoleh lewat transaksi riba atau dengan cara mendhalimi orang lain dan mengambil harta yang bukan haknya lewat korupsi atau mencuri, juga sumber-sumber yang telah dilarang dalam Islam.
Demikian antara lain disampaikan Ustaz Dr. Abizal M. Yati Lc MA, Ketua Bidang Pendidikan Dewan Dakwah Islamiyah Aceh saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di kawasan Desa Meunasah Manyang, Pagar Air, Ingin Jaya, Rabu (21/09/2016) malam.
“Dunia di akhir zaman ini memang memberikan godaan sehingga manusia tak pernah puas untuk terus memperbanyak hartanya dan tidak memikirkan lagi haram ataupun halal,” ujar Ustaz Abizal yang juga Wakil Ketua Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT) Aceh ini.
Pada pengajian yang turut dihadiri Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry, Dr Kusmawati Hatta M.Pd, Direktur Syariah dan SDM Bank Aceh, Haizir Sulaiman, Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Aceh, Aminullah Usman dan Direktur BPR Mustaqim Sukamakmur, T. Hanansyah, juga menghadirkan pemateri dari negeri jiran, Dr Taniza Toha (Presiden Persatuan Konseling Pendidikan (PEKA) Malaysia.
Ustaz Abizal menambahkan, soal harta haram yang tidak akan pernah berkah ini, juga sudah diperingatkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam, “Akan datang suatu masa pada umat manusia, mereka tidak lagi peduli dengan cara untuk mendapatkan harta, apakah melalui cara yang halal ataukah dengan cara yang haram,“ ujarnya mengutip hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari.
Bahkan, di akhir zaman ini yang lebih parahnya lagi ada sebagian orang berkata, ‘Yang haram saja susah apalagi yang halal’ yang menurutnya, pernyataan seperti ini adalah ucapan orang-orang yang jauh dari petunjuk dan hidayah Allah Subhanahu Wata’ala.
“Padahal yang halal jauh lebih mudah didapatkan daripada yang haram. Seorang muslim yang taat, ia akan memerhatikan rambu-rambu agamanya sehingga ia akan memilah antara yang rezeki halal dan yang haram. Ia tidak akan memberi makan dirinya, istri anak-anaknya dan keluarganya kecuali dengan rezeki yang halal,” terang Staf Pengajar Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry ini.
Dikatakannya, kehalalan maupun keharaman akan menjadi rentetan panjang perbuatan yang lainnya.
Petaka Harta Haram
Menurutnya, dampak menikmati dan memakan harta haram adalah petaka yang akan dirasakan oleh manusia baik saat di dunia maupun di akhirat kelak.
Pertama, hilangnya keberkahan harta. Keberkahan bukanlah bertolak pada besar atau kecilnya harta. Namun harta yang berkah atau tidak bisa dinilai dari cara pengambilan hartanya dan juga pembelanjaan harta tersebut.
Mengambil harta yang tidak disesuaikan dengan syar’i seperti melalui riba hanya akan membuat harta yang didapat tidak mencapai keberkahan. Allah telah mencabut keberkahan bagi harta yang didalamnya terdapat riba seperti yang difirmankan dalam Surat Al Baqarah: 275.
Kedua, gelapnya hati dan rasa malas beribadah. Sebab harta atau makanan yang haram memiliki dampak cukup besar akan kemalasan beribadah dan juga membuat hati menjadi gelap. Semakin banyak harta haram yang dimakan, semakin gelap pula hati sanubari manusia.
“Salah satu faktor penyebab kita begitu berat
untuk melakukan ibadah seperti shalat berjamaah dan lainnya adalah karena adanya harta atau makanan haram yang masuk ke perut kita. Ada kalanya seseorang begitu berat bangkit dari tempat duduknya menuju masjid ketika azan berkumandang lebih saat azan subuh berkumandang sangat berat bangun, ternyata hal itu salah satunya akibat makanan atau harta haram,” jelasnya.
Orang yang makan dari harta haram, dia juga akan melakukan ibadah dengan terpaksa, terburu-buru mau cepat selesai, terkadang berani meninggalkan ibadah wajib seperti shalat. Setelah itu dia begitu mudah melakukan perbuatan maksiat.
“Makan makanan haram, maka anggota tubuhnya akan bermaksiat mau tidak mau, diketahui ataupun tidak. Dan orang yang makan makanan halal, maka anggota tubuhnya akan taat mau kepada setiap perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya,” sebutnya.
Ketiga, terhalangnya doa kepada Allah. Doa yang dipanjatkan manusia akan terhalang oleh harta haram yang didapatnya, walaupun saat itu merupakan saat yang mustajab untuk memohon apapun pada Allah.
“Dan makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram, dan diberi makan dengan makanan yang haram. Maka bagaimanakah Allah mengabulkan doanya?,” mengutip hadits yang diriwayatkan Imam Muslim.
Keempat, dampak yang paling sengsara dan menyedihkan dari harta yang didapat dengan jalan haram adalah mendapat siksaan di neraka. Keterangan tersebut didapat dari penjelasan Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassalam lewat hadist riwayat Imam Tirmidzi yang berbunyi “Setiap daging yang tumbuh dari yang haram maka neraka lebih pantas untuk menyentuhnya.
‎‎Yang lebih disayangkan lagi adalah harta haram tersebut digunakan untuk menafkahi anak dan istri bahkan cucunya. Bisa dibayangkan betapa buruk generasi keturunannya yang terus disuapi dengan harta yang haram.
“Dunia ini ibarat bangkai. Meski dunia begitu menggoda, janganlah kita terperdaya mendapatkan rezeki dengan jalan yang haram. Carilah harta dengan jalan yang diridhai Allah agar keberkahan menghampiri,” katanya.‎*/kiriman Mustafa Husen Woyla (Aceh)

Saturday, September 24, 2016

Ketua Masjid Jogokariyan : Dari Masjid Kita Bangun Indonesia



Ketua Masjid Jogokariyan Ustaz M Jazir ASP (kanan).



















Jakarta (SI Online) - Sebagai negara Muslim terbesar di dunia, Indonesia tercatat memiliki masjid terbanyak di dunia. Pertumbuhan masjid paling pesat di Indonesia pernah terjadi pada 1950-an. 
“Perdana Menteri Mohammad Natsir mengeluarkan Surat Edaran kepada semua instansi Pemerintah sipil dan militer untuk menyediakan fasilitas ibadah bagi kaum Muslimin karena kewajiban salat pada jam kantor,” ungkap Ketua Masjid Jogokariyan Ustaz Muhammad Jazir ASP, dalam konferensi pers Pelatihan Masjid Mandiri MTW di Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu (24/09/2016). 
Surat Edaran inilah, lanjut Jazir, yang menjadi landasan pembangunan musalla dan masjid di semua fasilitas pemerintah sipil maupun militer, lembaga pendidikan dari SD sampai universitas. Sehingga jumlah masjid saat itu mengalami pertumbuhan yang pesat. 
“Kita kemudian mengenal ada masjid sekolah, masjid kampus, masjid kantor, masjid perumahan, masjid di tempat wisata, dan lainnya,” lanjut anggota Tim Ahli Pusat Studi Pancasila UGM Yogyakarta itu. 
Dengan banyaknya masjid di Indonesia, menurut  Jazir, sejatinya dengan efektif pembangunan dapat dilaksanakan. Sebab masing-masing masjid memiliki karakter sendiri-sendiri. 
“Masjid kampus banyak intelektual dan aktivis. Masjid sekolah banyak anak muda dan remaja. Masjid bisa digunakan sebagai kaderisasi kepemimpinan. Masjid tempat melahirkan pemimpin besar yang menyejahterakan,” ungkap Jazir.
Selain sebagai basis untuk mencetak pemimpin, Masjid juga memiliki potensi ekonomi. Masjid pasar, misalnya, dimana-mana memiliki dana infak yang sangat besar. “Sebab para pedagang infaknya gede. Hampir semua masjid pasar infaknya gede,” tandasnya. 
Jazir berharap, supaya potensi ekonomi masjid ini bisa digerakkan, Dewan Masjid supaya mengambil peran untuk membuat peta masjid. Dewan Masjid bisa membuat pemetaan masjid di Indonesia diikuti dengan potensi ekonominya. “Dari masjid kita bangun Indonesia, dari masjid kita siapkan pemimpin bangsa,” pungkasnya.

2300 Masjid Ikuti Pelatihan Masjid Mandiri MTW di Istiqlal

Pimpinan Majelis Taklim Wirausaha (MTW) Valentino Dinsi (kedua dari kanan) saat konferensi pers usai Pelatihan Masjid Mandiri di Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu (24/09)
















Jakarta (SI Online) - Tidak kurang dari lima ribu peserta mengikuti Pelatihan Masjid Mandiri yang digelar Majelis Ta'lim Wirausaha (MTW) di Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu (24/09/2016). Ribuan orang orang itu mewakili lebih dari 2300 masjid di Jabodetabek dan juga sebagian dari Malaysia. 
"Awalnya kita targetkan peserta hanya 350 orang, karena kapasitas ruangan. Ternyata peserta membludak menjadi lebih dari lima ribu orang,” ungkap Pimpinan Majelis Ta’lim Wirausaha (MTW) Valentino Dinsi dalam konferensi pers di Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu (24/09/2016). 
 Valentino mengungkapkan, besarnya animo peserta terhadap pelatihan ini menunjukkan bahwa selama ini sebenarnya para pengurus masjid menunggu-nunggu adanya pelatihan pemberdayaan ekonomi umat berbasis masjid. “Mereka menunggu siapa yang meniup (memanggil) saja,” kata pendiri International Muslim Business Conection (IMBC) ini. 
Sebagai kelanjutan dari pelatihan ini, kata Valentino, para peserta akan digabungkan dalam Komunitas Masjid Kita yang merupakan Jaringan Masjid Nusantara sehingga antara satu pengurus masjid dapat berinteraksi dengan yang lainnya. 
“Aplikasi masjid kita akan menjadi teknologi yang menghubungkan semua masjid. Sebuah platform yang menghubungkan semua masjid dan potensi di dalamnya,” tambahnya. 
MTW Pusat juga akan membantu men-set up serta melakukan pembinaan wirausaha di masjid-masjid dengan menggunakan model MTW yang telah berhasil dikembangkan oleh MTW di beberapa provinsi di Indonesia.
“Kita ubah mindset pengurus masjid supaya membangun ekonomi berbasis masjid,” ungkap Ketua Jaringan Pengusaha Muslim Indonesia (JPMI) itu. 
Dengan upaya ini, Valentino bercita-cita pada 2030 nanti umat Islam bisa menguasai perekonomian. Cara yang dilakukan untuk mewujudkan harapan itu adalah dengan mentoring dan coaching (pendampingan). “Uang umat ini cukup untuk membiayai pembangunan bangsa,” katanya. 
Tak hanya itu, Valentino berharap, dengan dilakukannya pemberdayaan ekonomi umat melalui masjid, kedepannya akan melahirkan pemimpin-pemimpin masa depan. “Semoga pemimpin-pemimpin umat akan lahir dari masjid,” pungkasnya. []

Dari Merbot Jadi Menteri



Dari Merbot Jadi Menteri


Silaturrahim dan audiensi dengan Pak Menristek dan Dikti. Ternyata beliau mantan ketua DKM Nurul Huda Semarang. Dari tempat mulia ini juga dengan izin Allah Dakwah Wisatahati/ Pesantren Daarul Quran tumbuh dan berkembang.
Dari masjid ke masjid lalu menjadi menteri.
DKM bahasa kerennya ya merbot, merbot itu asalnya bahasa Arab “marbuth” (مربوط) yang artinya terikat. Ya, hatinya terikat dengan masjid. Bahasa hadits Nabinya معلق بالمساجدmu’allaqun bilmasajid (hatinya terikat dengan masjid). Kalau rumah-Nya kita rawat, kita makmurkan dengan ibadah maka yang punya rumah (Allah ‘aza wa jalla) akan memuliakan kita, akan menggaji kita dengan gaji terbaik.
Oleh Ahmad Jameel (yusufmansur.com)

Wednesday, September 21, 2016

Bangun Ekonomi Umat Berbasis Masjid, MTW Gelar Pelatihan Masjid Mandiri di Istiqlal

 Ketika Rasulullah Saw dan para sahabatnya dari kaum Muhajirin berhijrah ke Madinah, setidaknya ada tiga langkah awal yang dilakukan. Membangun masjid, mempersaudarakan kaum Muhajirin dengan kaum Anshar dan mulai melakukan penguasaan pasar. 
 
“Menguasai pasar (ekonomi) adalah hal ketiga yang Rasulullah Saw lakukan setibanya beliau di Madinah,” ungkap pimpinan Majelis Ta’lim Wirausaha (MTW) Valentino Dinsi dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Kamis (22/09/2016). 
 
Pada era sekarang, Valentino mencontohkan gebrakan yang dilakukan Turki. Untuk memajukan perekonomian negaranya, Presiden Erdogan membangun perekonomian umat dengan  memobilisasi 6,5 juta pengusaha dan mengirimkan mengirimkan mereka ke-93 negara untuk berkompetisi di dunia internasional. 
 
“Ketika mereka berhasil, mereka memasukkan uang mereka ke Turki untuk membangun Turki,” tambah Valentino. 
 
Di Indonesia, menurut Ketua Jaringan Pengusaha Muslim Indonesia (JPMI) itu, membangun perekonomian umat juga bisa dilakukan dengan berbasis masjid. Sayangnya selama ini belum dilakukan bahkan tabu dibicarakan di dalam masjid. 
 
“Inilah yang menyebabkan kami terpanggil untuk membangun ekonomi umat dengan menjadikan masjid sebagai basis utama pembinaan umat sebagaimana di zaman Rasulullah Saw,” ungkap Valentino. 
 
Sebagai langkah nyata untuk menjadikan masjid sebagai basis ekonomi umat, Majelis Ta'lim Wirausaha (MTW) yang dipimpin Valentino pada Sabtu, 24 September 2016 mendatang akan menggelar Pelatihan Masjid Mandiri dengan tema “Ekonomi Berjamaah, Membangun Ekonomi Umat Berbasis Masjid” di Masjid Istiqlal, Jakarta. Pelatihan dimulai pukul 09.00 hingga Zuhur. 
 
“Pelatihan untuk membangun ekonomi umat berbasiskan masjid, yang mencoba menyatukan umat Islam di bidang ekonomi agar umat dapat berperan kembali dalam membangun perekonomian dan mengejar ketertinggalan di bidang ekonomi dari umat lainya,” jelas Chairman IMBC ini. 
 
Valentino menjelaskan dalam pelatihan yang digelar pihaknya ini akan diajarkan bagaimana menggunakan masjid sebagaimana fungsi masjid di zaman Rasulullah Saw. Selanjutnya MTW Pusat akan membantu mengembangkan unit ekonomi di masjid peserta hingga menjadikan masjid mandiri dan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat sekitar masjid.
 
Rencananya, pelatihan gratis itu akan menghadirkan sejumlah pembicara, seperti Ketua Masjid Jogokariyan, Yogyakarta, Ustaz Jazir ASP, Ketua JMPI sekaligus Pimpinan MTW Valentino Dinsi, CTO Masjid kita M Firaz Fiashal dan Kasubid Pelatihan Badan Pelaksana Pengelola Masjid Istiqlal Akbar Zainuddin. 
 
Valentino mengingatkan bahwa pelatihan ini tidak dipungut biaya alias gratis. Tetapi, kata dia, bila peserta, masjid atau perusahaan peserta memiliki kelapangan rezeki dapat berinfaq atau berpartisipasi dengan transfer melalui Bank BNI Syariah Ac.3000 700 806 a/n Valentino Dinsi QQ Majelis Ta’lim Wirausaha. 
 
"Ini sebagai infak dan sedekah untuk bantuan operasional pengganti transport pembicara dari dalam dan luar kota, konsumsi peserta, serta publikasi dan dokumentasi,” pungkasnya.
 
Bagi para pengurus Masjid, pengelola pesantren dan ormas Islam yang berkeinginan mengikuti pelatihan dapat mengisi formulir pendaftaran secara online melalui website reswi MTW (http://www.mtw.or.id/saatnya-bangkitkan-ekonomi-ummat/).  (SI Online)

Tuesday, September 13, 2016

SELALU ADA JALAN KELUAR

Suatu masalah itu jika menyempit, maka tabiatnya ia menjadi meluas. Jika tali ditarik keras-keras, ia akan terputus. Jika malam semakin gelap, pertanda akan muncul fajar. Itulah sunnah kehidupan yang sudah dan terus berlaku. Itulah hikmah yang pasti terjadi. Maka, relakanlah jiwamu untuk meridhoi kondisinya. Karena, setelah kehausan pasti akan ada air. Setelah musim semi akan datang musim penghujan.

Mungkin saja betapa banyak kesedihan yang engkau keluhkan. Tapi permudahlah urusanmu. Lapangkanlah pikiranmu. Tidakkah engkau membaca firman Allah SWT " Alam nasyrah laka sadrak...." ( Bukankah kami lapangkan dadamu ). Tidakkah engkau berbahagia karena di dunia ini masih terhampar banyak harapan. Di dunia ini masih banyak kemudahan.

Wahai yang berkeluh tentang banyak urusan. Lalu menjalani hidup serasa dalam kurungan. Sementara air matanya terus mengalir karena sedih. Sesungguhnya dalam pakaian Yusuf AS terdapat obat yang menyembuhkan kebutaan dua mata Ya'kub AS. Sesungguhnya dalam air dingin yang diguyur kesekujur tubuh, adalah kesembuhan bagi penyakit yang di derita Ya'kub AS.

Untuk rasa sakit, ada kesembuhan. Untuk penyakit, ada obat. Untuk haus, ada air. Untuk kesulitan, ada kelapangan. Dalam kesempitan, ada kebahagiaan. Dalam gelap, pasti akan ada cahaya terang. Api yang menghimpit Ibrahim Al Khalil, bisa menjadi mudah dan dingin. Lautan di hadapan Musa AS bisa terbelah dan digunakan untuk berjalan. Yunus Bin Matta AS, akhirnya keluar dari tiga gulita, karena kasih sayang Allah Al Jaliil (Yang Maha Mulia ). Rasulullah Al Mukhtar ( yang Terpilih ) pernah berada di dalam gua, dikelilingi oleh para kuffar. Hingga berkata Abu Bakar Ash Shiddiq ra, " Sesungguhnya orang-orang kafir hanya berjarak beberapa
jengkal. Kami khawatir bila terjadi kehancuran. " Berkata Rasul sang pemilik keyakinan dengan penuh ketegasan, " Sesungguhnya Allah bersama kita. Dia mendengarkan kita. Dia melindungi kita. Sebagaimana Dia telah menghimpun kita.

Katakanlah kepada orang yang tenggelam dalam putus asa dan telah terjatuh. Kepada orang yang telah patah arang dan terpuruk. Kepada orang yang ternodai pemahamannya dalam masalah taqdir. Bekerjalah dan beramallah, sesungguhnya Allah SWT justru menurunkan hujan setelah manusia putus ada terhadap hujan.

Adalah Bilal pernah terkapar di atas tanah tandus, tapi dialah yang kemudian menaiki Ka'bah Baitullah untuk mengumandangkan seruan adzan. Dialah yang memperdengarkan bumi dengan suara langit. Adalah Yusuf AS pernah lama terpenjara di balik jeruji besi. Tapi kemudian ia bisa menjadi seorang Raja Mesir setelah Al Aziz. Adalah Umar Bin Khattab ra seorang penggembala kambing di Mekkah. Lalu dialah orang yang bisa menebarkan keadilan dalam masa kekuasaannya. Lalu namanya terpahat di baju besi. Lalu dia yang memotong tali pelanggaran. Lalu dia yang suaranya menggelegar menghentak penguasa tiran.

Allah SWT pasti akan menciptakan kemudahan setelah kesulitan. Tidakkah engkau tahu, sesungguhnya pasti ada keadaan lain yang Allah berikan setelah kesulitan? Allah SWT yang mematahkan tali pengikat orang-orang yang terpenjara di jeruji para penguasa otoriter. Allah SWT yang akan menghapus air mata anak-anak yatim. Apakah engkau pernah melihat orang
faqir yang selamanya tidak mempunyai uang dan tidak bisa memenuhi kebutuhannya? Apakah engkau mendapati seorang tahanan selamanya berada di dalam penjara yang gelap? Tidak ada bencana yang terus menerus terjadi. Karena di sana ada Allah SWT Yang Maha Sendiri dan satu-satunya Tempat Meminta.

Siapapun yang melazimkan istighfar, maka Allah SWT akan menjadikan jalan keluar dari setiap kesulitannya. Allah SWT yang akan memberinya jalan penyesalan terhadap setiap kegundahannya. Laa HAULA Wa Laa Quwwata Illa Billah, tidak ada daya dan upaya kecuali Allah SWT. Dengan kalimat itu, segala beban mampu terpikul, semua kengerian bisa terlewati,
seluruh keadaan bisa lebih baik, lebih melapangkan pikiran dan menambahkan rasa ridho kepada Allah Al Jalal.

Beritakanlah kegembiraan kepada malam, dengan datangnya waktu subuh yang menyapu gelap dari puncak gunung-gunung. Beritakanlah kegembiraan kepada musim semi dengan turunnya limpahan air hujan hingga air itu masuk ke sela-sela pasir. Beritakanlah kegembiraan kepada orang faqir dengan harta yang bisa mengusir kematian.

Ketahuilah, di setiap kesulitan itu ada jeda. Di setiap kebutuhan itu ada pertolongan. Sesungguhnya Allah SWT menghilangkan bencana dengan ketulusan do'a dan kebersihan harapan. Ketahuilah, himpitan dan kesulitan itu menghilangkan kesombongan dan terus menerus mendorong kepada dzikir, syukur dan kewaspadaan berpikir. Maka tenangkanlah hatimu jika kegalauan menerpamu. Lapangkanlah dadamu jika kesulitan menyerangmu. Jangan
putus asa terhadap apa yang telah terjadi dan telah hancur. Ketahuilah, karena tidak ada sesuatu yang abadi selama alam semesta ini berputar.

Semoga kesulitan menjadi lebih ringan bagimu, dan musibah bisa memberikan kebaikan untukmu. Jika hidupmu telah terhimpit dan tak ada lagi alas an yang bisa engkau angkat. Kembalilah kepada Allah SWT. Ketahuilah bahwa kesulitan tak pernah berlangsung terus menerus. Allah SWT pasti memandangmu dengan pandangan kasih dan sayang. Karena dunia ini tidak berada dalam satu keadaan. Karena dunia ini berwarna-warni dan beragam bentuknya. Tidak ada kengerian yang tak pernah selesai. Belenggu akan terbuka dan ikatan akan terlepas. Bersabarlah, berdo'alah dan nantikanlah jalan keluar dari Allah SWT. Ketahuilah, sesungguhnya kesulitan itu akan mampu membuka kejernihan telinga dan mata, serta menajamkan pikiran.
Kesulitan bisa memberi hikmah dan pelajaran. Kesulitan mengajarkan kemampuan untuk memikul beban dan bertahan. Kesulitan menghapuskan dosa. Kesulitan memperbanyak pahala.

Maka, mintalah perlindungan dan pertolongan Allah SWT. Setiap musibah itu mempunyai tujuan. Berapa kali kita merasa takut, lalu kita berdo'a dan meminta kepada Allah SWT. Kemudian Allah SWT menyelamatkan dan melindungi kita. Berapa kali kita di lilit lapar, lalu Allah memberi makan dan minum untuk kita. Berapa kali kita diterpa kebimbangan dan
keresahan, lalu Allah memberikan kebahagiaan dan kesenangan. Berapa kali kita terjerat dan kita hampir terjatuh dalam kehancuran. Kemudian Allah SWT memberikan jalan untuk bangkit dan berjalan.

Ketahuilah, engkau berhubungan dengan Yang Maha Lembut terhadap hamba-Nya. Yang Terkenal dengan Pemberiannya. Yang Maha Meberi untuk kebahagiaan hamba-Nya.Yang Maha Kuasa atas segala keinginan-Nya.

 oleh Syaikh DR.Aidh Bin Abdullah Al Qarni

Monday, September 5, 2016

Kokohkan Kaki Saat Lewati Shirathal Mustaqim Dengan 6 Perbuatan Ini





Umat Islam tentu sangat familiar dengan Shirathal Mustaqim. Jembatan ini akan dilewati setiap Bani Adam pada pada hari kiamat kelak. Konon Shirathal Mustaqim disebut-sebut seperti rambut yang dibelah tujuh. Sehingga sulit dibayangkan bagaimana manusia bisa melewatinya.
Ditambah lagi, permukaan jembatan ini sangat licin, memiliki kait, cakar dan duri. Meski di ujung jembatan ada surga yang menanti, namun sepanjang lintasan adalah neraka yang berapi-api. Hal ini membuat kaki setiap manusia tidak akan mudah untuk melangkah.
Hanya amalan di dunia saja yang menyelamatkan, sedangkan selebihnya harus pasrah. Jika saja manusia melakukan enam perbuatan ini semasa hidup, maka bisa jadi kaki akan kokoh hingga di ujung jembatan. Apa saja perbuatan tersebut? Berikut selengkapnya.

1. Keterikatan pada Masjid
Perbuatan pertama yang ternyata dapat mengokohkan kaki kita ketika melewati jembatan Ash-Shirat ialah keterikatan pada masjid. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah yang mengatakan bahwa masjid merupakan tempat bagi orang-orang yang bertakwa.
Oleh sebab itu, Allah akan menyantunu orang yang menjadikan masjid sebagai rumah dengan roh, wewangian, dan rahmat. Tidak hanya itu, orang yang memiliki keterikatan dengan masjid akan diberi petunjuk oleh Allah SWT ketika melewati Ash-Shirat agar bisa masuk ke dalam surga.
2. Ikhlas Bersedekah
Tidak hanya keterikatan dengan masjid, agar bisa lebih kaki kita tidak mudah terperosok ke dalam neraka saat melewati jembatan Ash-Shirat, maka ada perbuatan yang harus kita laksanakan yakni ikhlas dalam bersedekah.
Pada dasarnya sedekah dapat dilakukan dengan apa saja, asalkan sesuatu yang halal. Baik itu harta, jasa bahkan senyuman pun sudah dikatakan sebagai sedekah. Namun, satu hal yang harus diingat ketika kita mengamalkannya belajarkan untuk ikhlas memberikannya kepada orang lain. Sebab ada balasan besar untuk amalan yang demikian. Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa berbuat kebaikan dengan bersedekah maka dia diperbolehkan melalui ash-Shiraat dengan mendapatkan petunjuk.”
3. Memaafkan Kesalahan Seorang Muslim
Setiap manusia tentu tidak pernah luput dari kesalahan dan dosa, baik itu kepada Allah ataupun kepada sesama muslim lainnya. Namun, ternyata sebagai sesama muslim kita harus saling memaafkan kesalahan orang lain. Sebab dengan melakukannya, maka Allah akan memudahkan langkah kita saat melewati jembatan Ash-Shirat di akhirat kelak.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang memberi maaf terhadap orang lain, maka Allah akan menyedikitkan kesulitannya di hari Kiamat.”
4. Mengurangi Beban Kesulitan Orang Lain
Perbuatan selanjutnya yang juga menjadi pengokoh kaki saat melewati jembatan Ash-Shirat ini adalah dengan mengurangi beban kesulitan orang lain. Ketika berada di dunia, sebagai sesama manusia kita harus saling menolong satu sama lain. Saat kita melakukannya dengan hati yang ikhlas, maka Allah akan menolong kita saat berada di akhirat kelak.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang menyambungkan bagi saudaranya yang Muslim kepada orang yang mempunyai kekuasaan dalam menyampaikan kebaikan atau memberikan kemudahan kepada orang yang tengah dalam kesulitan, Allah akan memberikan pertolongan atas kemudahan melewati ash-Shiraath pada hari Kiamat ketika kaki tergoyah.”
5. Membantu Kebutuhan Orang Lain
Tidak cukup hanya mengurangi beban orang lain, ternyata untuk dapat mengokohkan kaki saat melewati jembatan ini kita juga harus senantiasa membantu kebutuhan orang lain.
Dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas, disebutkan bahwa telah datang seseorang kepada Rasulullah SAW. dan bertanya, “Wahai Rasulullah, Manusia bagaimana yang paling dicintai oleh Allah?” Rasulullah menjawab, “Manusia yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaat bagi yang lainnya, amalan yang paling dicintai oleh Allah yang akan membuat kebahagiaan seorang Muslim yang lain adalah: meringankan kesulitan orang lain, memenuhi sebagian utangnya, memberi makan seseorang yang sedang kelaparan, dan memberikan kemudahan bagi orang yang sedang membutuhkan itu lebih baik daripada beriktikaf di masjid ini selama satu bulan. Barangsiapa yang melapangkan diri untuk membantu orang lain, Allah akan mengisi hatinya pada hari Kiamat dengan keridhaan-Nya dan barangsiapa yang berjalan dengan saudaranya akan suatu kebutuhan kemudian dia bisa memenuhinya, maka Allah akan menetapkan dua kakinya pada hari ketika kaki-kaki akan terpeleset ke dalam neraka.”
6. Menjaga Kaum Mukminin dari Gangguan Kaum Munafik
Perbuatan terakhir yang daoat menolong kita saat melewati jembatan Ash-Shirat adalah dengan menjaga kaum mukminin dari gangguan kaum munafik. Hal ini bertujuan agar kita selamat dari segala macam gangguan kaum munafik yang dapat menjerumuskan kita ke dalam api neraka di akhirat kelak.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muadz bin Anas, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang menjaga seorang Mukmin dari gangguan kaum munafik, maka Allah akan mengutus baginya seorang raja yang akan menjaga dagingnya pada hari Kiamat dari panasnya api neraka dan barangsiapa yang menginginkan seseorang terjerumus pada suatu kejelekan, maka Allah akan memasukkannya ke dalam Jahannam sampai dia mau mengakui apa yang dikatakannya.” (HR. Abu Dawud).

Sunday, September 4, 2016

Tolong Bawa Aku Ke Syurga..

Mengunjungi seorang teman yang sedang kritis sakitnya, dia menggenggam erat tangan saya, lalu menarik ke mukanya, dan membisikkan sesuatu..
Dalam airmata berlinang dan ucapan yg terbata2 dia berkata," jika kamu tidak melihat aku di syurga, tlg tanya pada Allah di mana aku, tolonglah aku ketika itu..."
Dia langsung terisak menangis, lalu saya memeluknya dan meletakkan muka saya di bahunya. Sayapun berbisik," Insyaallah, insyaallah, aku juga mohon kepadamu jika kamu juga tidak terlihat aku di syurga..."
Kami pun menangis bersama, entah berapa lama...
Ketika saya meninggalkan Rumah Sakit, saya terkenang akan pesan beliau...
Sebenarnya pesan itu pernah di sampaikan oleh seorang ulama besar, Ibnu Jauzi, yg berkata kpd sahabatnya sambil menangis :
" Jika kamu tidak menemui aku di syurga bersama kamu, maka tolonglah tanya kepada Allah tentang aku ; Wahai Rabb kami, si fulan sewaktu di dunia selalu mengingatkan kami tentang Engkau, maka masukkanlah dia bersama kami di syurga."
Ibnu Jauzi berpesan begini bersandar kepada sebuah hadits :
"Apabila penghuni syurga telah masuk ke dalam syurga lalu mereka tidak menemukan sahabat-sahabat mereka yg selalu bersama mereka dahulu di dunia, maka mereka pun bertanya kepada Allah ; Ya Rabb! kami tidak melihat sahabat-sahabat kami yang sewaktu di dunia bersholat bersama kami, berpuasa bersama kami dan berjuang bersama kami..."
Maka Allah berfirman, " Pergilah ke neraka, lalu keluarkanlah sahabat-sahabatmu yang di hatinya ada iman, walau hanya sebesar zarrah".
(Ibnu Mubarak dlm kitab Az Zuhd)
Maka wahai sahabat2ku,
Di dalam bersahabat, pilih lah mereka yg boleh membantu kita bukan ikatan di dunia, tetapi hingga akhirat..
Carilah sahabat2 yg senantiasa berbuat amal sholeh, yg sholat berjamaah, berpuasa dan sentiasa berpesan agar meningkatkan keimanan, serta berjuang untuk menegakkan agama Islam.
Carilah teman yg mengajak ke majlis ilmu, mengajak berbuat kebaikan, bersama untuk kerja kebajikan, serta selalu berpesan dgn kebenaran.
Teman yg dicari kerana urusan niaga, pekerjaan, teman nonton bola, teman memancing, teman bershopping, teman fb utk bercerita hal politik, teman whatsapp utk menceritakan hal dunia, akan berpisah pada garis mati dan masing2 hanya akan membawa diri sendiri.
Tetapi teman yg bertakwa, akan mencari kita untuk bersama ke syurga....
Simaklah diri, apakah ada teman yg seperti ini dalam kehidupan kita, atau yg ada mungkin lebih buruk dari kita...
Ayo berubah sekarang, kurangi waktu dgn teman yg hanya condong pada dunia, carilah teman yg membawa kita bersama ke syurga, karena kita tidak bisa mengharapkan pahala ibadah kita saja utk masuk syurganya Allah..
Perbanyaklah usaha, moga satu darinya akan tersangkut, dan membawa kita ke pintu syurga....
Al-Hasan Al-Bashri berkata :
" Perbanyakkanlah sahabat-sahabat mukminmu, karena mereka memiliki syafa'at pada hari kiamat”.
Pejamkan mata, berfikirlah,.. siapa agaknya diantara sahabat2 kita yg akan mencari dan mengajak kita bersama2 ke syurga..
Jika tidak, mulailah hari ini mencari teman ke syurga sebagai suatu misi peribadi.
Agaknya kepada siapa antum boleh menyampaikan pesan ini?
--------
Sahabat, tolong tanyakan Allah jika aku tiada bersamamu di syurga-Nya...

Thursday, September 1, 2016

11 Amalan Dapat Jaminan Rumah di Surga


Ini ada beberapa amalan sederhana yang bila diamalkan akan dibangunkan rumah atau istana di surga. Amalan-amalan tersebut adalah:
Pertama: Membangun masjid dengan ikhlas karena Allah
Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ
Siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di surga.” (HR. Ibnu Majah, no. 738. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)
Mafhash qathaah dalam hadits artinya lubang yang dipakai burung menaruh telurnya dan menderum di tempat tesebut. Dan qathah adalah sejenis burung.
Hadits tentang keutamaan membangun masjid juga disebutkan dari hadits ‘Utsman bin ‘Affan. Di masa Utsman yaitu tahun 30 Hijriyah hingga khilafah beliau berakhir karena terbunuhnya beliau, dibangunlah masjid Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Utsman katakan pada mereka yang membangun sebagai bentuk pengingkaran bahwa mereka terlalu bermegah-megahan. Lalu Utsman membawakan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ فِى الْجَنَّةِ مِثْلَهُ
Siapa yang membangun masjid karena Allah, maka Allah akan membangun baginya semisal itu di surga.” (HR. Bukhari, no. 450; Muslim, no. 533).
Kata Imam Nawawi rahimahullah, maksud akan dibangun baginya semisal itu di surga ada dua tafsiran:
1- Allah akan membangunkan semisal itu dengan bangunan yang disebut bait (rumah). Namun sifatnya dalam hal luasnya dan lainnya, tentu punya keutamaan tersendiri. Bangunan di surga tentu tidak pernah dilihat oleh mata, tak pernah didengar oleh telinga, dan tak pernah terbetik dalam hati akan indahnya.
2- Keutamaan bangunan yang diperoleh di surga dibanding dengan rumah di surga lainnya adalah seperti keutamaan masjid di dunia dibanding dengan rumah-rumah di dunia. (Syarh Shahih Muslim, 5: 14)
 Kedua: Membaca surat Al-Ikhlas sepuluh kali
Dari Mu’adz bin Anas Al-Juhaniy radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قَرَأَ (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ) حَتَّى يَخْتِمَهَا عَشْرَ مَرَّاتٍ بَنَى اللَّهُ لَهُ قَصْراً فِى الْجَنَّةِ
Siapa yang membaca qul huwallahu ahad sampai ia merampungkannya (surat Al-Ikhlas, pen.) sebanyak sepuluh kali, maka akan dibangunkan baginya rumah di surga.” (HR. Ahmad, 3: 437. Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah mengatakan bahwa hadits ini hasan dengan berbagai penguat)
Ketiga: Mengerjakan shalat dhuha empat raka’at dan shalat sebelum Zhuhur empat raka’at
Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ صَلَّى الضُّحَى أَرْبَعًا، وَقَبْلَ الأُولَى أَرْبَعًا بنيَ لَهُ بِهَا بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ
Siapa yang shalat Dhuha empat raka’at dan shalat sebelum Zhuhur empat raka’at, maka dibangunkan baginya rumah di surga.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Awsath. Dalam Ash-Shahihah no. 2349 disebutkan oleh Syaikh Al-Albani bahwa hadits ini hasan
Keempat: Mengerjakan 12 raka’at shalat rawatib dalam sehari
Dari Ummu Habibah –istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-, Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ صَلَّى اثْنَتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِى يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِىَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِى الْجَنَّةِ
“Barangsiapa mengerjakan shalat sunnah dalam sehari-semalam sebanyak 12 raka’at, maka karena sebab amalan tersebut, ia akan dibangun sebuah rumah di surga.” (HR. Muslim, no. 728)
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ ثَابَرَ عَلَى ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنَ السُّنَّةِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ
Barangsiapa merutinkan shalat sunnah dua belas raka’at dalam sehari, maka Allah akan membangunkan bagi dia sebuah rumah di surga. Dua belas raka’at tersebut adalah empat raka’at sebelum  zhuhur, dua raka’at sesudah zhuhur, dua raka’at sesudah maghrib, dua raka’at sesudah ‘Isya, dan dua raka’at sebelum shubuh.” (HR. Tirmidzi, no. 414; Ibnu Majah, no. 1140; An-Nasa’i, no. 1795. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Kelima: Meninggalkan perdebatan
Keenam: Meninggalkan dusta
Ketujuh: Berakhlak mulia
Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِى رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِى وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِى أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ
Aku memberikan jaminan rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan walaupun dia orang yang benar. Aku memberikan jaminan rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan kedustaan walaupun dalam bentuk candaan. Aku memberikan jaminan rumah di surga yang tinggi bagi orang yang bagus akhlaknya.” (HR. Abu Daud, no. 4800. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)
Kedelapan: Mengucapkan alhamdulillah dan istirja’ (inna ilaihi wa innaa ilaihi raaji’’un) ketika anak kita wafat
Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا مَاتَ وَلَدُ الْعَبْدِ قَالَ اللَّهُ لِمَلاَئِكَتِهِ قَبَضْتُمْ وَلَدَ عَبْدِى. فَيَقُولُونَ نَعَمْ. فَيَقُولُ قَبَضْتُمْ ثَمَرَةَ فُؤَادِهِ. فَيَقُولُونَ نَعَمْ. فَيَقُولُ مَاذَا قَالَ عَبْدِى فَيَقُولُونَ حَمِدَكَ وَاسْتَرْجَعَ. فَيَقُولُ اللَّهُ ابْنُوا لِعَبْدِى بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ وَسَمُّوهُ بَيْتَ الْحَمْدِ
Apabila anak seorang hamba meninggal dunia, Allah berfirman kepada malaikat-Nya, “Kalian telah mencabut nyawa anak hamba-Ku?” Mereka berkata, “Benar.” Allah berfirman, “Kalian telah mencabut nyawa buah hatinya?” Mereka menjawab, “Benar.” Allah berfirman, “Apa yang diucapkan oleh hamba-Ku saat itu?” Mereka berkata, “Ia memujimu dan mengucapkan istirja’ (innaa lilaahi wa innaa ilaihi raaji’uun).” Allah berfirman, “Bangunkan untuk hamba-Ku di surga, dan namai ia dengan nama baitul hamdi (rumah pujian).” (HR. Tirmidzi, no. 1021; Ahmad, 4: 415. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).
Kesembilan: Membaca doa masuk pasar
Dari Salim bin ‘Abdillah bin ‘Umar, dari bapaknya Ibnu ‘Umar, dari kakeknya (‘Umar bin Al-Khattab), ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ دَخَلَ السُّوقَ فَقَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكُ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيتُ وَهُوَ حَىٌّ لاَ يَمُوتُ بِيَدِهِ الْخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ وَمَحَا عَنْهُ أَلْفَ أَلْفِ سَيِّئَةٍ وَرَفَعَ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ دَرَجَةٍ
Siapa yang masuk pasar lalu mengucapkan, “Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lahu, lahul mulku walahul hamdu yuhyii wayumiit wa huwa hayyun laa yamuut biyadihil khoir wahuwa ‘alaa kulli syain qodiir (tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya. Allah yang memiliki kekuasaan dan segala pujian untuk-Nya.” Allah akan menuliskan untuknya sejuta kebaikan, menghapus darinya sejuta kejelekan, mengangkat untuknya sejuta derajat, dan membangunkan untuknya sebuah rumah di surga.” (HR. Tirmidzi, no. 3428. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if).
Dalam riwayat lain disebutkan, dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ دَخَلَ السُّوْقَ فَبَاعَ فِيْهَا وَاشْتَرَى ، فَقَالَ : لاَ إِلَه َإِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، لَهُ الملْكُ ، وَلَهُ الحَمْدُ ، يُحْيِي وَيُمِيْتُ ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْر ، كَتَبَ اللهُ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ ، وَمَحَا عَنْهُ أَلْفَ أَلْفِ سَيِّئَةٍ ، وَبَنَى لَهُ بَيْتًا فِي الجَنَّةِ
Siapa yang memasuki pasar lalu ia melakukan jual beli di dalamnya, lantas mengucapkan: Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, yuhyi wa yumiit wa huwa ‘ala kulli syai’in qadir; maka Allah akan mencatat baginya sejuta kebaikan, akan menghapus darinya sejuta kejelekan dan akan membangunkan baginya rumah di surga.” (HR. Al-Hakim dalam Mustadrak, 1: 722)
Meskipun riwayatnya dha’if atau lemah namun karena kita diperintahkan berdzikir ketika orang itu lalai seperti kala di pasar, maka dzikir di atas masih boleh diamalkan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,
“إذا تضمنت أحاديث الفضائل الضعيفة تقديراً وتحديداً ؛ مثل صلاة في وقت معين ، بقراءة معينة ، أو على صفة معينة ؛ لم يجز ذلك – أي العمل بها – لأن استحباب هذا الوصف المعين لم يثبت بدليل شرعي ، بخلاف ما لو روي فيه : (مَن دخل السوق فقال : لا إله إلا الله كان له كذا وكذا) فإن ذكر الله في السوق مستحب ، لما فيه من ذكر الله بين الغافلين ، فأما تقدير الثواب المروي فيه فلا يضر ثبوته ولا عدم ثبوته
“Jika suatu hadits yang menerangkan fadhilah atau keutamaan suatu amalan dari sisi jumlah atau pembatasan tertentu seperti shalat di waktu tertentu, membaca bacaan tertentu, atau ada tata cara tertentu, tidak boleh diamalkan jika haditsnya berasal dari hadits dha’if. Karena menetapkan tata cara yang khusus dalam ibadah haruslah ditetapkan dengan dalil.
Adapun mengenai doa masuk pasar yaitu haditsnya berbunyi, siapa yang masuk pasar lantas membaca laa ilaha illallah dan seterusnya, maka perlu dipahami bahwa secara umum berdzikir ketika masuk pasar itu disunnahkan. Karena kita diperintahkan berdzikir saat orang-orang itu lalai. Besarnya pahala yang disebutkan dalam hadits tersebut (hingga disebutkan sejuta, pen.) tidaklah menimbulkan problema ketika bacaan tersebut diamalkan, baik nantinya hadits tersebut dihukumi shahih ataukah tidak. ” (Majmu’ Al-Fatawa, 18: 67)
Dalil umum yang memerintahkan kita banyak dzikir termasuk di pasar adalah hadits berikut.
Dari ‘Abdullah bin Busr, ia berkata,
جَاءَ أَعْرَابِيَّانِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ أَحَدُهُمَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ خَيْرٌ قَالَ « مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ ». وَقَالَ الآخَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ شَرَائِعَ الإِسْلاَمِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَىَّ فَمُرْنِى بِأَمْرٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ. فَقَالَ لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْباً مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
Ada dua orang Arab (badui) mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas salah satu dari mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, manusia bagaimanakah yang baik?” “Yang panjang umurnya dan baik amalannya,” jawab beliau. Salah satunya lagi bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syari’at Islam amat banyak. Perintahkanlah padaku suatu amalan yang bisa kubergantung padanya.” “Hendaklah lisanmu selalu basah untuk berdzikir pada Allah,” jawab beliau. (HR. Ahmad 4: 188, sanad shahih kata Syaikh Syu’aib Al-Arnauth). Hadits ini menunjukkan bahwa dzikir itu dilakukan setiap saat, bukan hanya di masjid, sampai di sekitar orang-orang yang lalai dari dzikir, kita pun diperintahkan untuk tetap berdzikir.
Abu ‘Ubaidah bin ‘Abdullah bin Mas’ud berkata, “Ketika hati seseorang terus berdzikir pada Allah maka ia seperti berada dalam shalat. Jika ia berada di pasar lalu ia menggerakkan kedua bibirnya untuk berdzikir, maka itu lebih baik.” (Lihat Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 524)
Kesepuluh: Menutup celah dalam shaf shalat
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ سَدَّ فُرْجَةً بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي الجَنَّةِ وَرَفَعَهُ بِهَا دَرَجَةً
Barang siapa yang menutupi suatu celah (dalam shaf), niscaya Allah akan mengangkat derajatnya karena hal tersebut dan akan dibangunkan untuknya sebuah rumah di dalam surga.” (HR. Al-Muhamili dalam Al-Amali, 2: 36. Disebutkan dalam Ash-Shahihah, no. 1892)
Kesebelas: Beriman pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
Dari Fadhalah bin ‘Ubaid radhiyallahu ‘anhu, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَنَا زَعِيمٌ وَالزَّعِيمُ الْحَمِيلُ لِمَنْ آمَنَ بِي وَأَسْلَمَ وَهَاجَرَ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ وَأَنَا زَعِيمٌ لِمَنْ آمَنَ بِي وَأَسْلَمَ وَجَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى غُرَفِ الْجَنَّةِ مَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَلَمْ يَدَعْ لِلْخَيْرِ مَطْلَبًا وَلَا مِنْ الشَّرِّ مَهْرَبًا يَمُوتُ حَيْثُ شَاءَ أَنْ يَمُوتَ
Aku menjamin orang yang beriman kepadaku, masuk islam dan berhijrah dengan sebuah rumah di pinggir surga, di tengah surga, dan surga yang paling tingggi. Aku menjamin orang yang beriman kepadaku, masuk islam dan berjihad dengan rumah di pinggir surga, di tengah surga dan di surga yang paling tinggi. Barangsiapa yang melakukan itu, maka ia tidak membiarkan satu pun kebaikan, dan ia lari dari setiap keburukan, ia pun akan meninggal, di mana saja Allah kehendaki untuk meninggal.” (HR. An-Nasa’i, no. 3135. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

Moga kita dimudahkan mendapatkan kaveling rumah atau istana di surga. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.
https://saaid.net/rasael/441.htm