Friday, January 31, 2020

BEKAL KE KAMPUNG AKHIRAT

Kita semua butuh bekal, bukan bertujuan bersaing di dunia. Bekal ini lebih kita butuh untuk menuju alam akhirat.
Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memegang pundaknya, lalu berkata,

كُنْ فِى الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ ، أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ
Hiduplah kalian di dunia seakan-akan seperti orang asing, atau seperti seorang pengembara.
Ibnu ‘Umar lantas berkata,
إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ
Jika engkau berada di petang hari, janganlah tunggu sampai datang pagi. Jika engkau berada di pagi hari, janganlah tunggu sampai datang petang. Manfaatkanlah waktu sehatmu sebelum datang sakitmu. Manfaatkanlah pula waktu hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Bukhari, no. 6416)
Hadits di atas mengajarkan bahwa dunia ini bukanlah tempat kita menetap dan bukanlah negeri kita sesungguhnya. Dari sini seharusnya setiap mukmin berada pada salah satu dari dua keadaan berikut.
Pertama:
Hidup seperti orang asing yang tinggal di negeri asing. Yang ia lakukan:
  1. Hatinya tidak bergantung pada dunia. Hatinya bergantung pada kampung sesungguhnya yang nanti ia akan kembali, yaitu negeri akhirat.
  2. Mukim di dunia hanya untuk menyiapkan bekal menuju ke kampung akhirat.
  3. Tidak pernah bersaing yaitu antara orang asing tadi dan penduduk asli (penggila dunia).
  4. Tidak pernah gelisah ketika ada yang mendapatkan dunia. Itulah orang asing.
Al-Hasan Al-Bashri berkata,
المؤْمِنُ فِي الدُّنْيَا كَالغَرِيْبِ لاَ يَجْزَع مِنْ ذُلِّهَا ، وَلاَ يُنَافِسُ فِي عِزِّهَا ، لَهُ شَأْنٌ ، وَلِلنَّاسِ شَأْنٌ
“Seorang mukmin di dunia seperti orang asing. Tidak pernah gelisah terhadap orang yang mendapatkan dunia, tidak pernah saling berlomba dengan penggila dunia. Penggila dunia memiliki urusan sendiri, orang asing yang ingin kembali ke kampung akhirat punya urusan sendiri.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 379)
‘Atho’ As-Salimi berkata dalam doanya,
اللهمَّ ارْحَمْ فِي الدُّنْيَا غُرْبَتِي ، وَارْحَمْ فِي القَبْرِ وَحْشَتِي ، وَارْحَمْ مَوْقِفِي غَداً بَيْنَ يَدَيْكَ
“Ya Allah, rahmatilah keasinganku di dunia, selamatkanlah dari kesedihan di kuburku, rahmatilah aku ketika aku berdiri di hadapan-Mu kelak.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 379)
Orang yang tergila dengan dunia, lupa akan akhirat, gambarannya seperti yang disampaikan oleh Yahya bin Mu’adz Ar-Razi,
الدُّنْيَا خَمْرُ الشَّيْطَان ، مَنْ سَكِرَ مِنْهَا لَمْ يُفِقْ إِلاَّ فِي عَسْكَرِ الموْتَى نَادِماً مَعَ الخَاسِرِيْنَ
“Dunia adalah khamarnya setan. Siapa yang mabuk, barulah tersadarkan diri ketika kematian (yang gelap) itu datang. Nantinya ia akan menyesal bersama dengan orang-orang yang merugi.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 381)
Kedua:
Hidup seperti seorang musafir atau pengembara yang tidak punya niatan untuk menetap sama sekali. Orang seperti hanya ingin terus menelusuri jalan hingga sampai pada ujung akhirnya, yaitu kematian. Yang ia lakukan:
  1. Terus mencari bekal untuk safarnya supaya bisa sampai di ujung perjalanan.
  2. Tidak punya keinginan untuk memperbanyak kesenangan dunia karena ingin sibuk terus menambah bekal.
Cobalah ambil pelajaran dari perkataan Al-Fudhail bin ‘Iyadh. Beliau pernah mengatakan pada seseorang,
كَمْ أَتَتْ عَلَيْكَ ؟
“Berapa umur yang telah kau lewati?”
Ia menjawab,
سِتُّوْنَ سَنَةً
“Enam puluh tahun.”
Fudhail menyatakan,
فَأَنْتَ مُنْذُ سِتِّيْنَ سَنَةً تَسِيْرُ إِلَى رَبِّكَ يُوشِكُ أَنْ تَبلُغَ
“Selama 60 tahun ini engkau sedang berjalan menuju Rabbmu dan sebentar lagi engkau akan sampai.”
Orang itu menjawab,
إِنّا للهِ وَإنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ
“Segala sesuatu milik Allah dan akan kembali pada Allah.”
Fudhail balik bertanya,
أَتَعْرِفُ تَفْسِيْرَهُ
“Apa engkau tahu arti kalimat yang engkau ucapkan tersebut?”
Fudhail lantas melanjutkan, harusnya engkau katakan pula,
أَنَا للهِ عَبْدٌ وَإِلَيْهِ رَاجِعٌ ، فَمَنْ عَلِمَ أَنَّهُ للهِ عَبْدٌ ، وَأَنَّهُ إِلَيْهِ رَاجِعٌ ، فَلْيَعْلَمْ أَنَّهُ مَوْقُوْفٌ ، وَمَنْ عَلِمَ أَنَّهُ مَوْقُوْفٌ ، فَلْيَعْلَمْ أَنَّهُ مَسْؤُوْلٌ ، وَمَنْ عَلِمَ أَنَّهُ مَسْؤُوْلٌ ، فَلْيُعِدَّ لِلسُّؤَالِ جَوَاباً
“Sesungguhnya aku adalah hamba di sisi Allah dan akan kembali pada-Nya. Siapa saja yang mengetahui Allah itu memiliki hamba dan akan kembali pada-Nya, maka tentu ia tahu bahwa hidupnya akan berakhir. Kalau tahu hidupnya akan berakhir, tentu ia tahu bahwa ia akan ditanya. Kalau ia tahu akan ditanya, maka ia tentu akan mempersiapkan jawaban dari pertanyaan yang ada. ”
Orang itu bertanya pada Fudhail,
فَمَا الحِيْلَةُ ؟
“Adakah alasan yang bisa dibuat-buat untuk melepaskan diri?”
Fudhail menjawab,
يَسِيْرَةٌ
“Itu mudah.”
Ia balik bertanya,
مَا هِيَ ؟
“Apa itu?”
Fudhail menjawab,
تُحْسِنُ فِيْمَا بَقِيَ يُغْفَرُ لَكَ مَا مَضَى فَإِنّكَ إِنْ أَسَأْتَ فِيْمَا بَقِيَ ، أُخِذْتَ بِمَا مَضَى وَبِمَا بَقِيَ
“Hendaklah beramal baik di sisa umur yang ada, maka akan diampuni kesalah-kesalahanmu yang terdahulu. Karena jika engkau masih berbuat jelek di sisa umurmu, engkau akan disiksa karena kesalahanmu yang dulu dan sisa umurmu yang ada.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 383)

Nasihat Ibnu ‘Umar: Jangan Panjang Angan-Angan

Adapun wasiat dari Ibnu ‘Umar diambil dari hadits, yang berisi nasihat supaya kita tidak berpanjang angan-angan. Jika kita berada di petang hari, maka janganlah menunggu sampai pagi hari. Jika kita berada di pagi hari, maka janganlah menunggu sampai petang hari. Bahkan kita harus merasa bahwa bisa jadi ajal (kematian) menjemput kita sebelum itu.
Kita dapat ambil pelajaran dari apa yang dikatakan oleh Imam Ahmad tentang maksud zuhud,
أيُّ شيءٍ الزُّهد في الدنيا ؟ قال : قِصَرُ الأمل ، من إذا أصبحَ ، قال : لا أُمسي ، قال : وهكذا قال سفيان. قيل لأبي عبد الله : بأيِّ شيء نستعين على قِصَرِ الأمل ؟ قال : ما ندري إنَّما هو توفيق
“Bagaimana cara zuhud terhadap dunia?” Jawab Imam Ahmad, “Tidak berpanjang angan-angan. Ketika berada di pagi hari, maka ia tidak berkata, “Ahh … Tunggu sore saja.”
Sufyan juga pernah bertanya pada Imam Ahmad, “Bagaimana agar kita tidak panjang angan-angan?” Jawab beliau, “Bisa seperti hanya taufik dari Allah.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 384)
 Moga kita tidak jadi seperti yang mengatakan …
رَبِّ ارْجِعُونِ  لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ
“(Ketika datang kematian pada seseorang, lalu ia berkata): Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.” (QS. Al Mu’minuun: 99-100).
Ya Allah … Mudahkanlah kami untuk mempersiapkan bekal amalan shalih untuk menuju kampung akhirat. Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.

Wednesday, January 22, 2020

Solusi Supaya Doa Cepat Dikabulkan Allah

DOA adalah senjata orang-orang yang beriman. Dalam hadis disebutkan, doa adalah inti ibadah, penghubung antara hamba dan Sang Khalik.
Terkadang suatu doa cepat pengabulannya, meski kerap kali pula pengabulannya lama atau bahkan tidak terjawab sama sekali. Mengapa?
Alkisah, seorang sahabat datang menghadap Baginda Rasululullah Saw. Dia mengadukan perihal doa-doanya yang tidak diijabah Allah SWT meski dia mengulangnya untuk waktu yang lama.
Ya Rasulullah, saya ingin doa saya dikabulkan. Sahabat itu mencari jalan keluar.
Rasul menjawab dengan sesuatu yang di luar perkiraannya. Sucikan makananmu, kata Rasul, dan hindari memakan makanan haram.[Islamindonesia]
Ustadz Hasan Bishri dalam buku Dahsyatnya Kekuatan Basmalah menjelaskan syaratnya. Yakni ketika membaca basmalah, seorang muslim harus yakin dengan kekuasaan Allah Subhanahu wa Taala.
Yang dibutuhkan hanyalah keyakinan kita yang mantap terhadap keagungan dan kekuasaan Allah yang tulus saat melakukannya. Yaitu dengan membaca Basmalah ketika masuk rumah atau menutup pintu, niscaya setan akan terblokir dan terhalang untuk masuk rumah kita, terangnya. (Inilah)
Wallahu a’lam bish shawab.

Monday, January 13, 2020

Ini 13 Amalan Pembuka Rezeki dari Langit

SERING kali kita beranggapan bahwa rezeki kita sebanding dengan apa yang kita usahakan. Sesungguhnya tidak mesti begitu.
Ada banyak orang yang bisa menghidupi keluarganya di luar rumus matematika duniawi. Misalnya saja, seorang buruh tetap bisa menyekolahkan lima orang anaknya sampai perguruan tinggi.
Bagi orang Islam, rezeki jelas domain Allah SWT. Jika Allah SWT berkehendak, maka Ia akan memberikan rezekinya pada kita dari berbagai arah yang tak kita duga.
Nah, ada beberapa amalan yang bisa membuka pintu rezeki dari Allah SWT. Berikut beberapa di antaranya:
1. Shalat Wajib Tepat Waktu.
Shalat Wajib paling utama. Perbaiki dan selalu perbaiki hubungan kita dengan Allah. Karena Allah-lah Sang Maha Pemberi Rezeki.
2. Taqwa
“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya,” (QS ath-Thalaq: 2-3).
3. Tawakal

Nabi s.a.w. bersabda: “Seandainya kamu bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya kamu diberi rezeki seperti burung diberi rezeki, ia pagi hari lapar dan petang hari telah kenyang,” (Riwayat Ahmad, at-Tirmizi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, al-Hakim dari Umar bin al-Khattab r.a.).
4. Tahajjud
“Wahai manusia, sebarkanlah salam, beri makanlah, sambung tali kasih, shalat malamlah saat orang pada terlelap, maka masuklah surga dengan selamat,” (HR. Al-Hakim, Ibnu Majah, At-Tirmizy).
5. Shalat Dhuha.
“Wahai anak Adam, janganlah engkau merasa lemah dari empat rakaat dalam mengawali harimu, niscaya Aku (Allah) akan mencukupimu di akhir harimu,” (HR. Abu Darda`).
6. Dzikir dan Istighfar
“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi nikmat yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Aku takut kamu ditimpa siksa hari kiamat,” (QS.Hud:2).
7. Doa dan Restu Orang Tua
Ridho Allah SWT ada pada ridho orang tua. Mintalah restu mereka, terutama ibu.
8. Silaturrahim
“Barangsiapa yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rezekinya, hendaklah ia menyambungkan tali persaudaraan,” (H.R. Bukhari-Muslim).
9. Sedekah
Sabda Nabi s.a.w.: “Tidaklah kamu diberi pertolongan dan diberi rezeki melainkan kerana orang-orang lemah di kalangan kamu,” (Riwayat Bukhari).
10. Berbuat Kebaikan
Sabda Nabi s.a.w.: “Sesungguhnya Allah tdk akan zalim pada hambanya yang berbuat kebaikan. Dia akan dibalas dengan diberi rezeki di dunia dan akan dibalas dengan pahala di akhirat,” (HR. Ahmad).
11. Bangun Pagi
Sabda Nabi Shallalahu ‘Alaihi Wassalam : “Bangunlah pagi-pagi untuk mencari rezekimu dan melakukan tugasmu, karena hal itu membawa berkah dan kesuksesan,” (H.R. At-Tabarani).
12. Berdagang
Dan Nabi Shallalahu ‘Alaihi Wassalam bersabda: “Berniagalah, karena sembilan dari sepuluh pintu rezeki itu ada dalam perniagaan,” (Riwayat Ahmad).
13. Menikah
“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan mengkayakan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) dan Maha Mengetahui,” (QS. An Nuur : 32). []
Sumber: Arsip Islampos.

Wednesday, January 1, 2020

Doa Selamat dari Penguasa Zalim, Terbukti Maqbul

Doa selamat dari penguasa zalim ini diabadikan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al Quran. Sekaligus dikisahkan bagaimana doa ini dikabulkan-Nya.
رَبِّ نَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
“Ya Rabbku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu.” (QS. Al Qashash: 21)
Doa ini dipanjatkan oleh Nabi Musa ‘alaihis salam setelah diperingatkan seseorang bahwa Fir’aun dan pejabatnya sedang berunding mengambil keputusan untuk membunuh Musa. Kisah ini tercantum dalam ayat sebelumnya yakni Surat Al Qashash ayat 20.
Setelah memanjatkan doa selamat dari penguasa zalim ini, Musa pergi ke negeri Madyan. Syaikh Muhammad Ali Usman mengatakan, perginya Musa ke Madyan adalah bimbingan Allah. Demikianlah cara Allah menyelamatkan Musa dari Fir’aun saat itu.
Ketika tiba di sumur Madyan, Musa mendapati sekelompok orang sedang memberi minum ternak mereka. Di pinggir antrian itu, ada dua perempuan yang sedang menunggu. Mereka tak bisa mengambil air sebelum kerumunan itu bubar.
Musa pun menolong keduanya. Ia memberikan minum ternak-ternak itu. Lalu kembali ke tempatnya berteduh.
Dua perempuan yang tidak lain adalah putri Nabi Syu’aib itu sangat terkesan dengan Musa. Mereka menceritakan apa yang dialaminya kepada sang ayah. Mendengar cerita itu, Nabi Syu’aib mengundang Musa ke kediamannya. Di sanalah Nabi Musa mendapatkan ketegasan bahwa Allah menyelamatkannya dari Fir’aun dan pejabatnya yang zalim.
“Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu,” kata Nabi Syu’aib kepada Musa, sebagaimana difirmankan Allah dalam Surat Al Qashash ayat 25.
Demikianlah doa selamat dari penguasa zalim ini dikabulkan Allah. Fase pertama, Musa berada di Madyan yang tidak terjangkau oleh Fir’aun. Ia aman bersama dengan Nabi Syu’aib. Fase kedua, kelak Musa diselamatkan dari Fir’aun dengan ditenggelamkannya penguasa zalim itu di laut merah.
Tak hanya selamat dari penguasa zalim seperti Fir’aun, doa ini juga untuk memohon pertolongan kepada Allah agar diselamatkan dari kaum atau orang-orang zalim secara umum. Sebagaimana redaksi ayat tersebut. [Muchlisin BK/BersamaDakwah]
*Doa-doa lainnya bisa dibaca di artikel Kumpulan Doa