Sunday, June 25, 2017

Tuntunan Melaksanakan Puasa Sunnah Syawal

Puasa sunnah yang satu ini, puasa Sunnah syawal, jika dilakukan sama artinya seseorang berpuasa selama 12 bulan. Namun, ganjaran itu hanya berlaku jika dilakukan sesuai tata cara yang dicontohkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berikut ini tata cara puasa syawal.
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164). Dari hadits tersebut, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin berkata, “Yang disunnahkan adalah berpuasa enam hari di bulan Syawal.” (Syarhul Mumti’, 6: 464). Adapun tata caranya adalah sebagai berikut,
Pertama, lakukanlah puasa syawal sebanyak 6 hari sesuai dengan sunnah Rasulullah salallahi alaihi wa sallam. Jika meniatkan puasa syawal dan dilakukan lebih atau kurang dari 6 hari, maka amalan akan tertolak, karena tidak ada tuntunan yang menjelaskan itu.
Kedua, puasa syawal dilakukan di bulan syawal. Hanya saja, para ahli fiqh mengatakan bahwa puasa syawal lebih utama dilaksanakan sehari setelah Idul Fitri. Meski demikian, tidak masalah jika diakhirkan, asalkan masih di bulan Syawal.
Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Para fuqoha berkata bahwa yang lebih utama, enam hari di atas dilakukan setelah Idul Fithri (1 Syawal) secara langsung. Ini menunjukkan bersegera dalam melakukan kebaikan.” (Syarhul Mumti’, 6: 465).
Ketiga, lebih utama dilakukan secara berurutan namun tidak mengapa jika dilakukan tidak berurutan. Kemudian, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin juga menjelaskan, “Lebih utama puasa Syawal dilakukan secara berurutan karena itulah yang umumnya lebih mudah. Itu pun tanda berlomba-lomba dalam hal yang diperintahkan.”
Qodho’ Dulu, Baru Puasa Syawal
Keempat, usahakan untuk menunaikan qodho’ puasa terlebih dahulu agar mendapatkan ganjaran puasa Syawal yaitu puasa setahun penuh. Dalam hal ini Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah berkata, “Siapa yang mempunyai kewajiban qodho’ puasa Ramadhan, hendaklah ia memulai puasa qodho’nya di bulan Syawal. Hal itu lebih akan membuat kewajiban seorang muslim menjadi gugur. Bahkan puasa qodho’ itu lebih utama dari puasa enam hari Syawal.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 391).
Begitu pula beliau mengatakan, “Siapa yang memulai qodho’ puasa Ramadhan terlebih dahulu dari puasa Syawal, lalu ia menginginkan puasa enam hari di bulan Syawal setelah qodho’nya sempurna, maka itu lebih baik. Inilah yang dimaksud dalam hadits yaitu bagi yang menjalani ibadah puasa Ramadhan lalu mengikuti puasa enam hari di bulan Syawal.
Namun pahala puasa Syawal itu tidak bisa digapai jika tidak menunaikan qodho’ puasanya di bulan Syawal. Karena puasa enam hari di bulan Syawal tetap harus dilakukan setelah qodho’ itu dilakukan.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 392).
Kelima, puasa syawal boleh dilakukan di hari Jumat dan Sabtu. Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa dimakruhkan berpuasa pada hari Jum’at secara bersendirian. Namun jika diikuti puasa sebelum atau sesudahnya atau bertepatan dengan kebiasaan puasa seperti berpuasa nadzar karena sembuh dari sakit dan bertepatan dengan hari Jum’at, maka tidaklah makruh.” (Al Majmu’ Syarh Al Muhaddzab, 6: 309). Hal ini menunjukkan masih bolehnya berpuasa Syawal pada hari Jum’at karena bertepatan dengan kebiasaan. (sumber : suaramuslin.net)

Sunday, June 11, 2017

Inilah Kesalahan Orang Berpuasa yang Harus Dijauhi

Semua kaum muslimin mengetahui bahwa berpuasa di bulan Ramadhan adalah kewajiban yang mesti ditunaikan dalam keadaan apapun, kecuali bagi orang-orang yang tidak sanggup berpuasa dan orang-orang berada dalam perjalanan, yang mana mereka boleh tidak berpuasa.
Semua orang yang berpuasa harus mengetahui segala sesuatu yang berhubungan dengan puasa Ramadhan. Mulai dari syarat wajib puasa, sunnah-sunnah puasa, hal-hal yang membatalkan puasa dan kesalahan orang yang berpuasa.
Berikut ini kami tulis beberapa kesalahan yang dilakukan orang berpuasa yang tidak disadari oleh sebagian umat Islam yang melakukan puasa Ramadhan seperti dikutip dari risalah yang ditulis Syaikh Abdul Malik bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Qasim dalam kitab Arba’una Darsan Liman Adraka Ramadhan.
Penjelasannya adalah sebagai berikut:
1. Tidak berniat puasa untuk puasa wajib pada malam hari atau sebelum fajar, meskipun telah cukup satu niat di awal bulan untuk puasa Ramadhan.
2. Makan sahur satu atau dua jam sebelum terbitnya fajar.
Walaupun tidak membatalakan puasa, namun orang yang melakukan perbuatan ini menyelisihi Sunnah. Sebab, salah satu Sunnah dalam berpuasa Ramadhan adalah menyegerakan berbuka dan mengakhirkan makan sahur.
3. Berlebih-lebihan dalam makan dan minum.
Tindakan ini bertentangan dengan tujuan disyariatkannya puasa, yaitu rasa lapar yang menjadi sebab kekhusyuan.
4. Sikap lalai dalam menunaikan shalat fardhu
Misalnya seseorang meninggalkan shalat zhuhur atau ashar dengan alasan malas, tidur atau sibuk dengan aktivitas yang tidak bermanfaat.
5. Tidak menjaga lidah pada siang dan malam Ramadhan dari ucapan sia-sia, keji, dusta, menggunjing, dan mengadu domba.
Perbuatan ini sejatinya tidak membatalkan puasa, namun bisa mengurangi pahala puasa seseorang.
6. Menyia-nyiakan waktu yang mulia dengan tindakan sia-sia.
Contohnya adalah menonton film yang tidak bermanfaat, mengisi teka teki, mengikuti kuis, atau duduk di pinggir-pinggir jalan.
7. Lalai dari amalan-amalan yang mestinya dilipatgandakan pada bulan Ramadhan.
Contohnya adalah berdzikir, berdoa, membaca Al-Qur`an, atau shalat sunnahmu`akkadah (yang sangat ditegaskan).
8. Meninggalkan shalat tarawih secara berjamaah.
Sungguh, ada anjuran untuk melaksanakannya bersama imam, hingga imam beranjak dari tempatnya, agar tertulis pahala qiyamullail bagi orang yang melaksanakannya.
9. Bisa diperhatikan, pada awal bulan Ramadhan orang-orang begitu semangat untuk mengerjakan shalat dan membaca Al-Qur`an, tetapi menjadi lesu dan bosan di akhir bulan.
Padahal, sepuluh hari terakhir Ramadhan memiliki keistimewaan dibanding awal bulan.
10. Meninggalkan qiyamullail yang dikhususkan pelaksanaannya pada sepuluh hari terakhir.
Disebutkan dalam sebuah riwayat, bahwa begitu tiba sepuluh hari terakhir, NabiShallallahu Alaihi wa Sallam menghidupkan malam-malamnya, membangunkan keluarganya, dan mengeratkan ikat pinggangnya, yakni tidak mencampuri istrinya.
11. Begadang pada malam hari, kemudian tidur hingga melewatkan shalat subuh, sehingga baru dikerjakan pada waktu dhuha (matahari mulai naik).
Ini merupakan tindakan lalai dalam urusan kewajiban.
12. Kikir terhadap harta dan mengabaikan orang-orang yang memerlukan.
Perbuatan ini tentu tidak sesuai dengan spirit Ramadhan, karena jumlah orang-orang yang membutuhkan semakin bertambah pada bulan Ramadhan. Disamping itu, pahala sedekah dilipatgandakan pada hari-hari ini.
13. Banyak orang yang tidak perhatian untuk membayar zakat harta secara sempurna.
Banyak tidak mengetahui bahwa padahal zakat setara dengan shalat dan puasa, meskipun ibadah ini tidak khusus hanya pada bulan Ramadhan.
14. Lalai dari berdoa pada waktu puasa, terlebih pada waktu berbuka, karena sibuk makan dan minum.
Dalam sebuah hadits disebutkan tentang anjuran berdoa dan orang yang berpuasa memiliki doa yang tidak tertolak ketika ia berbuka.
15. Mengabaikan sunnah iktikaf di bulan Ramadhan, khususnya pada sepuluh hari terakhir.
Banyak orang yang tidak mengetahui bahwa anjuran untuk beriktikaf terdapat di dalam Al-Qur`an dan hadits.
16. Banyak kaum perempuan yang turut hadir di masjid, dengan pakaian mencolok disertai parfum dan wewangian, padahal rentan menimbulkan fitnah.
17. Kaum perempuan menggampangkan pergi ke pasar pada malam Ramadhan, bahkan bersama sopir asing dan tanpa mahramdan biasanya tanpa kebutuhan mendesak.
Ya Allah, sempurnakanlah bulan ini untuk kami dengan aman dan iman, dengan keselamatan dan keislaman.
Ya Allah, bantulah kami untuk menunaikan puasa dan beribadah pada malam harinya. Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang Engkau bebaskan dari api neraka, termasuk orang-orang yang beruntung dengan mendapatkan kedudukan tinggi di surga.
Ya Allah, ampunilah kami, orang tua kami, dan segenap kaum muslimin. Ya Allah, karuniakanlah kepada kami rasa aman di negara kami, perbaikilah kondisi para pemimpin kami.
[Abu Syafiq/BersamaDakwah]