Tuesday, August 21, 2018

8 Hal Ini Bisa Membuat Kita Dicintai Penduduk Langit

ALLAH yang maha berkendak atas kejadian hamba-Nya, karena Allah Menciptakan segala yang ada di bumi dan di langit. Dia bisa membuat hamba menjadi mulia atau terhina, tergantung pada ikhtiar dan keistiqomahan yang ada pada diri setiap hamba.
Setiap umat manusia secara logika sehatnya pasti menginginkan posisi yang mulia di hadapan manusia lainnya. Namun, mulia di mata manusia tidak menjamin menjadi mulia di hadapan Allah. Oleh karena itu, sebagian besar umat Islam berharap untuk meraih ridha Allah dan menjadi mulia disisi-Nya.
Ketika Allah menjadikan hamba-Nya mulia, maka mulia pula lah hamba-Nya dihadapan penduduk langit dan bumi. Sebagaimana hadits berikut ini.
Apabila Allah mencintai seorang hamba, Dia akan memanggil jibril,seraya berkata…”Sungguh Aku mencintai fulan, maka cintailah ia”. Jibripun bergegas dgn serta merta mencintainya, dan berseru dgn lantang pada penghuni langit “Allah mencintai si fulan, maka cintailah ia…!!!”. Penghuni langitpun seketika itupun mencintainya.Setelah itu di bumi, ia pun di cintai manusia “. (HR Muslim)
Baca Juga : Abu Bakar Ash-Shidiq Mukmin yang Paling Sempurna Imannya
Adapun sebagai menambah wawasan dan mengintropeksi diri kita secara pribadi, berikut ciri-ciri hamba yang disayangi Allah dan terkenal oleh penduduk langit.
1. Orang yang Menyayangi
Rasulullah bersabda:
الرَّاحمُونَ يَرحمُهُم الرّحمنُ تبارك وتعالي ارْحَموا مَنْ في الأرض يرحمْكُم من في السَّماءِ
"Sayangilah makhluk yang ada dibumi, niscaya yang ada dilangit akan menyayangimu”. (Hadits Shahih, Riwayat ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir, Lihat Shahiihul jaami’ no. 896).
“Sesungguhnya Allah menyayangi hamba-hambaNya yang penyayang“(HR Bukhori Muslim).
2. Senantiasa Mensucikan Diri
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mensucikan diri”. (QS Al-Baqarah: 222)
3. Diberikan Ujian
“Bila Allah mencintai suatu kaum maka Dia memberikan mereka ujian (dengan berbagai musibah)”. (HR Ahmad).
4. Bertakwa
“Maka sungguh, Allah mencintai hamba hamba-Nya yang bertakwa.” (QS Ali Imran: 76).
5. Senantiasa Bersabar
“Dan Allah mencintai hamba hambaNya yang sabar.” (QS Ali Imran: 146).
6. Orang-orang yang Mengikuti Rasul
“Katakanlah kalau kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku (Rasulullah) niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa dosa kalian…” (QS Ali Imran: 31).
7. Berperang Membela Agama Allah
“Sesungguhnya Allah mencintai hamba hamba-Nya yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS Shaff: 4).
8. Berbakti kepada Ibunya
Rasulullah pernah bersabda, ketika itu SitiAisyah ra, menerima tamu yang ingin berjumpa dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Salam. Namun dikarenakan ibunya sudah tua dan sakit-sakitan, dan ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. Maka ia putuskan untuk segera pulang kembali ke Yaman tanpa mencapai tujuannya berjumpa Rasulullah. Setelah mengetahui hal tersebut Rasulullah bersabda: “Uwais Al-Qarni anak yang taat kepada ibunya, adalah penghuni langit, Wallahu A’lam Bish-showab. []

SUMBER: HIJAZ.ID

Tuesday, August 14, 2018

Bersama Kesulitan Ada Kemudahan

Dunia memang sengaja Allah Ta’ala ciptakan sebagai tempat ujian, tidak satu sisipun dibelahan dunia yang dihuni manusia tanpa adanya ujian. Baik yang tidak beriman maupun yang beriman semua mendapat bagian yang sama didalam menerima ujian. Orang beriman semakin bertambah keimanannya semakin berat pula ujian yang diterimanya.
Semua bentuk ujian dari semua sisi, baik berupa kekayaan harta maupun kekurangan harta, karena dengan itu Allah Ta’ala ingin menseleksi siapa diantara hambanya yang terbaik amalnya. Allah Ta’ala, berfirman:
الَّذِى خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
“yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun,” (QS. Al-Mulk 67: Ayat 2)
Ayat diatas memberi penjelasan kepada kita bahwa Allah Ta’ala tidak menyebutkan banyak amalnya tetapi yang baik amalnya, baik menurut para mufasir adalah sesuai perintah Allah dan contoh NabiNya, Artinya kwalitas lebih utama daripada kwantitas, namun jika kwalitas sudah baik ditambah dengan kwantitas itu yang paling utama.
Namun dibalik ujian berupa banyak kesulitan dan penderitaan ada kemudahan yang mengiringinya. Allah Ta’ala berfirman,
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan,” (QS. Al-Insyirah 94: Ayat 5)
Allah Ta’ala menceritakan bahwa sesungguhnya sesudah kesulitan pasti ada kemudahan, kemudian berita ini diulangi-Nya lagi.
قَالَ ابْنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنَا ابْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى حَدَّثَنَا ابْنُ ثَوْرٍ عَنْ مَعْمَر عَنِ الْحَسَنِ قَالَ: خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا مَسْرُورًا فَرِحًا وَهُوَ يَضْحَكُ وَهُوَ يَقُولُ: “لَنْ يَغْلِب عُسْر يُسْرَيْنِ لَنْ يَغْلِبَ عُسْرٌ يُسْرَيْنِ فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا”.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abdul A’la, telah menceritakan kepada kami Ibnu Saur, dari Ma’mar, dari Al-Hasan yang mengatakan bahwa di suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dalam keadaan senang dan riang seraya tersenyum, lalu bersabda: Satu kesulitan tidak akan dapat mengalahkan dua kemudahan, satu kesulitan tidak akan dapat mengalahkan dua kemudahan. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
Dan termasuk di antara nasihat yang bersumber dari Imam Syafii disebutkan sebagai berikut:
صَبرا جَميلا مَا أقرَبَ الفَرجا … مَن رَاقَب اللَّهَ فِي الْأُمُورِ نَجَا …
مَن صَدَق اللَّهَ لَم يَنَلْه أذَى … وَمَن رَجَاه يَكون حَيثُ رَجَا …
Bersabarlah dengan kesabaran yang baik, maka alangkah dekatnya jalan kemudahan itu. Barang siapa yang merasa dirinya selalu berada dalam pengawasan Allah dalam semua urusan, niscaya ia akan selamat.
Dan barang siapa yang membenarkan janji Allah, niscaya tidak akan tertimpa oleh musibah. Dan barang siapa yang berharap kepada Allah, maka akan terjadilah seperti apa yang diharapkan.
Ibnu Duraid mengatakan bahwa Abu Hatim As-Sijistani telah membacakan bait-bait syair berikut kepadanya, yaitu:
إِذَا اشْتَمَلَتْ عَلَى الْيَأْسِ القلوبُ … وَضَاقَ لِمَا بِهِ الصَّدْرُ الرحيبُ …
وَأَوْطَأَتِ الْمَكَارِهُ وَاطْمَأَنَّتْ … وَأَرْسَتْ فِي أَمَاكِنِهَا الخطوبُ …
وَلَمْ تَرَ لِانْكِشَافِ الضُّرِّ وَجْهًا … وَلَا أَغْنَى بحيلته الأريبُ
أَتَاكَ عَلَى قُنوط مِنْكَ غَوثٌ … يَمُنُّ بِهِ اللَّطِيفُ المستجيبُ …
وَكُلُّ الْحَادِثَاتِ إِذَا تَنَاهَتْ … فَمَوْصُولٌ بِهَا الْفَرَجُ الْقَرِيبُ …
Bilamana hati dipenuhi oleh rasa putus asa, dan dada yang luas menjadi terasa sempit, dan hal-hal yang tidak disukai datang menimpa diri, serta banyak musibah yang dialaminya, sehingga ia tidak melihat adanya celah untuk melepaskan diri dari bahaya yang sedang menimpa diri, dan tiada gunanya lagi semua upaya untuk menanggulanginya. Maka akan datanglah kepadamu pertolongan bila hatimu berserah diri kepada-Nya, yaitu pertolongan dari Tuhan Yang Maha lembut lagi Maha Memperkenankan doa. Semua musibah apabila telah mencapai puncaknya pasti berhubungan langsung dengan jalan keluarnya yang tidak lama.
Wallahu a’lam
Abu Miqdam
Komunitas Akhlaq Mulia