Saturday, November 30, 2019

Yakin Pertolongan Allah

Modal utama para Nabi dan Rasul dalam menjalankan amanah dakwah adalah keyakinan yang utuh dan menyeluruh bahwa dirinya akan ditolong oleh Allah SWT. 
Sebagai bukti kita bisa belajar dari apa yang dialami oleh Nabi Yusuf AS. Sejak kecil beliau telah menghadapi cobaan hidup luar biasa. Beliau didengki oleh saudaranya sendiri, bahkan dibuang ke dalam sumur hingga akhirnya dijual ke Mesir, difitnah hingga dipenjara.
Jika mau didata, Nabi Yusuf tidak pernah mengalami masa hidup kecuali selalu dalam kesulitan demi kesulitan. Namun, Nabi Yusuf memiliki satu keyakinan bahwa Allah pasti menolongnya. Dan, karena itu, komitmen dalam kebenaran menjadi pilihan hidup yang tak pernah tergoyahkan, meski ia harus menghadapi penderitaan.
"Yusuf berkata: Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku" (QS Yusuf [12]: 33). Ibnu Katsir menjelaskan, Nabi Yusuf lebih memilih dipenjara daripada melakukan perbuatan keji (kemesuman). Pilihan itu tidak mungkin terucap kecuali oleh jiwa yang seutuhnya yakin dengan pertolongan Allah.
Ungkapan lain yang penuh keberanian dalam hal keyakinan akan pertolongan Allah ini disampaikan oleh Nabi Nuh AS kepada kaumnya.
"Dan bacakanlah kepada mereka berita penting tentang Nuh di waktu dia berkata kepada kaumnya: Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku (kepadamu) dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allah-lah aku bertawakal, karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku). Kemudian janganlah keputusanmu itu dirahasiakan, lalu lakukanlah terhadap diriku, dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku." (QS Yunus [11]: 71).
Pertanyaannya, apa yang membuat mereka memiliki keyakinan utuh -menyeluruh terhadap pertolongan Allah? Ada dua hal yang bisa kita ambil dari kisah Nabi Yusuf dan Nabi Nuh AS. Pertama, niat yang suci murni dan cita-cita besar bagi kemaslahatan umat manusia. Kedua, tidak ada ketergantungan diri melainkan kepada Allah. Dengan kata lain, ada independensi mental.
Hal ini terbukti dari ungkapannya, "Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikit pun dari padamu. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya)." (QS Yunus [10]: 72).
Dengan demikian, selama niat hidup kita adalah suci murni, ikhlas ingin mengharap ridha Allah, kemudian tidak kita pikirkan melainkan maslahat kehidupan umat manusia, yang justru dengan itu semua kesempitan, kesulitan dan ketidaknyamanan hidup terasa terus menghampiri, jangan pernah bingung apalagi putus asa. 
Maju terus dan kobarkan semangat independensi mental dalam diri atas dasar iman. Insya Allah akan tiba pertolongan-Nya. Dan, bagaimana keyakinan akan pertolongan-Nya akan Allah abaikan sementara terhadap prasangka baik saja Allah langsung jawab. "Aku (Allah) sesuai dengan persangkaan hamba kepada-Ku." (HR Bukhari Muslim). 
sumber : republikaonline

Tuesday, November 12, 2019

Doa Nabi Daud Ketika Mengalami Kesulitan

Di dalam kitab Al-Mustaghisin Billahi Ta’ala ‘Indal Muhimmat wal Hajat, Khalaf bin Abdul Malik dikisahkan bahwa di antara doa yang dibaca oleh Nabi Daud ketika mengalami kesulitan dan kesusahan adalah sebagai berikut;
اَللَّهُمَّ بِنُوْرِكَ اِهْتَدَيْتُ، وَبِفَضْلِكَ اِسْتَغْنَيْتُ، وَبِنِعْمَتِكَ أَصْبَحْتُ وَأَمْسَيْتُ
Allohumma bi nuurika ihtadaitu wa bi fadhlika istaghnaitu wa bi ni’matika ashbahtu wa amsaitu.
Artinya:
“Ya Allah, dengan cahaya-Mu aku mendapat petunjuk, dengan anugerah-Mu aku merasa cukup, dan dengan nikmat-Mu aku berada di waktu pagi dan sore.”

 Doa ini berdasarkan riwayat yang disebutkan oleh Abu Abdillah Al-Fadhl Al-Hasyimi dalam kitab Fadha-il Baitil Maqdis, dari Aisyah, dia berkata bahwa Nabi Saw bersabda;
إن سليمان لما أعياه فتح بيت المقدس، دعا الإنس والجن فأعياهم حتى جاءه شيخ من جلساء داود عليه السلام فقال: ألا أعلمك دعوات، كان أبوك داود، إذا اهتم أو كربه أمر، فدعا بها فرج الله عنه؟ قال سليمان: بلى. فقال الرجل: كان يقول: اللهم بنورك اهتديت، وبفضلك استغنيت، وبنعمتك أصبحت وأمسيت. قال: فقالها سليمان ففتحت
“Sesunggunya Nabi Sulaimana saat mengalami kepayahan membuka Baitul Maqdis, beliau memanggil manusia dan jin namun mereka kepayahan juga. Kemudian datang seorang syaikh yang menjadi asisten Nabi Daud dan berkata; ‘Tidakkah aku ajarkan kepadamu beberapa kalimat, di mana bapakmu Nabi Daud ketika menginginkan sesuatu atau sesuatu menyulitkan dirinya, dia berdoa dengan kalimat itu dan Allah lepaskan kesulitannya?”
Nabi Sulaiman berkata; ‘Iya.’ Kemudian syaikh tersebut berkata, ‘Nabi Daud berdoa; ‘Allohumma bi nuurika ihtadaitu wa bi fadhlika istaghnaitu wa bi ni’matika ashbahtu wa amsaitu.’ Kemudian Nabi Sulaiman berdoa dengan kalimat itu dan Baitul Maqdis terbuka.
Sumber: bincangsyariah.com