Sunday, December 31, 2017

INILAH 10 AMALAN AGAR RUMAH KELIHATAN BERCAHAYA DARI LANGIT

Jika anda pernah mendengar adanya rumah rumah yang bercahaya jika dilihat dari langit pasti akan bertanya, apa yang membuat rumah tersebut terlihat terang jika dilihat dari langit oleh malaikat?
Tentu rumah tersebut adalah rumah yang didalamnya sering ada aturan agama Islam dan sering dilakukan oleh penghuninya.

Dan salah satu yang membuatnya begitu adalah dengan amalan membaca Al Qur an oleh penghuninya sehingga malaikat sering mendatangi rumah tersebut.
Jika rumah anda tidak ingin terlihat suram dan hitam kelam , maka lakukan hal hal yang baik didalam rumah. Jangan pernah menyimpan ataupun menggunakan minuman yang memabukkan . Jangan pernah menyimpan patung dirumah dan masih banyak lagi.

Seperti halnya perbuatan manusia yang sering membuat rumah terlihat hitam dan di jauhi malaikat , maka dengan segala amalan dan amal perbuatan baiklah yang dapat mengembalikan semua itu.
Apalagi jika didalamnya ada anak yatim yang anda pelihara dengan keiklasan. Dan berikut ini cara agar rumah kita bercahaya dan terlihat dari langit;

Diantaranya adalah :

 1.Rumah yang diliputi dzikir kepada Allah yang di dalamnya ada ruku dan sujud2
 2.Rumah yang senantiasa bersih
 3.Rumah yang penghuninya adalah orang-orang yang jujur dan menepati janji
 4.Rumah yang dihuni oleh orang-orang yang senantiasa menyambung tali silaturahim
 5.Rumah yang dihuni oleh orang yang makanannya halal
 6.Rumah yang dihuni oleh orang yang senantiasa berbuat baik kepada kedua orang tuanya.
 7.Rumah yang senantiasa ada tilawah Al-Quran
 8.Rumah yang dihuni oleh para penuntut ilmu
 9.Rumah yang penghuninya ada isteri solehah
10.Rumah yang bersih dari barang-barang haram

Rumah adalah surga bagi pemiliknya jika rumah tersebut asri dan banyak di datangi malaikat maka sudah pasti rumah tersebut bisa menjadi surga bagi penghuninya.

Sumber: thunderchallenge.us

Tinggalkan Suap Menyuap, Pintu Rezeki Terbuka

Ada seorang kawan bercerita tentang seorang pedagang di Arab Saudi pada awal dia meniti karir dalam bisnis. Dia bercerita bahwa dulunya dia bekerja di sebuah pelabuhan di negeri ini dan semua barang-barang perniagaan yang akan masuk harus melalui dia dan mendapatkan tanda tangannya. Dia selalu mengawasi orang-orang yang main suap menyuap. Tetapi dia tahu bahwa atasannya senang mengambil uang suap. Maka dengan tanpa rasa malu lagi, atasannya menasihati teman kami ini agar tidak terlalu keras dan mau menerima uang yang diberika oleh penyuap untuk mempermudah urusannya.
Setelah mendegar perkataan tersebut , dia gemetar dan merasa takut. Ia lalu keluar dari kantornya, sementara kesedihan, penyesalan dan keraguan terasa mencekik lehernya. Hari-hari mulai berjalan lagi, dan para penyuap itu datang kepadanya. Yang ini mengatakan kepadanya, “Ini adalah hadiah dari perusahaan kami.” Yang satu lagi bilang, “Barang ini adalah tanda terima kasih perusahaan kami atas jerih payah Anda yang baik.” Dan dia selalu mengembalikan dan menolak semuanya. Tetapi, sampai kapan kondisi ini akan tetap berlangsung? Dia khawatir sewaktu-waktu mentalnya melemah dan akhirnya mau menerima harta haram tersebut.
Dia berada dalam dua pilihan; meninggalkan jabatannya dan gajinya atau dia harus melanggar hukum-hukum Allah dan mau menerima suap. Karena hatinya masih berada di atas fitrah dan bisa meresapi firman Allah SWT, “Dan siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan menjadikan untuknya jalan keluar dan akan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka,” (QS. Ath-Thalaq: 2-3).
Akhirnya dia memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatannya. Teman kami ini berkata, “Kemudian Allah mengaruniaiku sebuah kapal kargo yang kecil. Aku pun memulai bisnis, mengangkut barang-barang. Lalu, Allah mengaruniaiku kapal kargo lain lagi.
Beberapa pedagang mulai memintaku untuk mengangkut barang-barang perniagaan mereka karena (mereka melihat) kesungguhanku dan mengangkut barang-barang, seolah-olah barang itu milikku sendiri.
Di antara kejadian yang aku alami adalah sebuah kapal kargoku menabrak karang dan pecah, karena sang nahkodaku tertidur. Dia meminta maaf dan aku memaafkannya. Maka, merasa heranlah seorang polisi lalu lintas laut karena aku begitu mudah memaafkan orang.
Polisi itu bersikeras untuk berkenalan denganku. Setelah berlangsung beberapa tahun, pangkat polisi itu bertambah tinggi. Saat itu datang barang-barang perniagaan dalam jumlah besar. Dia tidak mau orang lain, dia memilihku untuk mengangkut barang-barang tersebut tanpa tawar menawar lagi.”
Saudaraku, pembaca (yang budiman), lihatlah, bagaimana pintu-pintu rezeki terbuka untuknya. Sekarang, dia telah menjadi saudagar besar. Kepedulian sosial dan santunnya bagi orang-orang miskin begitu besar. Demikianlah, barangsiapa meninggalkan suatu perbuatan (yang haram) karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti kepadanya dengan yang lebih baik darinya. []
Sumber: Kisah-kisah Nyata/Karya: Ibrahim bin Abdullah al-Hazimi/Penerbit: Darul Haq, Jakarta

Saturday, December 30, 2017

Ketika Doa Tak Kunjung Terkabul

Sobat, ketika kita merasa sudah sekian lama berdoa tapi belum juga dikabulkan, sehingga timbul rasa putus asa dan merasa Allah tidak akan mengabulkan doa kita. Sikap seperti ini dikecam oleh Allah, sebagaimana diterangkan dalam hadits dari Abu Hurairah ra, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ فَيَقُوْلَ: قَدْ دَعَوْتُ فَلاَ أَوْ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِيْ
“(Doa) kalian sebenarnya akan dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa, (yaitu) dengan berkata, “Aku sudah berdoa tapi kok belum juga dikabulkan?!” (HR. Al-Bukhari, no. 6340, Muslim, no. 2735 dan ini lafaz Muslim).
Perlu diketahui bahwa Allah Ta’ala Maha Mendengar semua doa dari siapapun. Allah Maha Mengetahui mana yang terbaik bagi hamba-Nya untuk kehidupan dunia maupun akhiratnya. Sehingga, bila seseorang meminta sesuatu dan tidak dikabulkan oleh Allah persis seperti yang dia minta, berarti Allah maha tahu bahwa itu tak baik baginya, maka Dia gantikan dengan yang lebih baik tanpa disadari oleh hamba tersebut.
Kadang pula Allah mengulur pengabulan doa sebagai bentuk ujian. Karena banyak yang tak tahan uji sehingga merasa dirinya sudah sekian lama berdoa tapi tak kunjung juga dikabulkan. Padahal, kalau mau melihat kehidupan para Nabi dan Rasul pun tak semua permintaan mereka dikabulkan seketika. Allah ulur pertolongan-Nya sebagai bentuk ujian kepada Nabi tersebut dan ummatnya dan pastinya Allah maha tahu apa yang terbaik untuk mereka.
Alangkah indah rangkaian nasehat berbentuk curahan hati yang ditulis oleh Al-Imam Abu Al-Faraj Ibnu Al-Jauzi berikut ini:
“Telah kulihat bahwa salah satu bentuk ujian adalah ketika seorang mukmin berdoa dan belum dikabulkan. Lalu dia mengulang terus doanya itu tapi tak jua merasa tanda-tanda pengabulan. Dia harus memahami bahwa ini merupakan ujian yang memerlukan kesabaran.
Adanya perasaan waswas dalam hati karena diulurnya pengabulan doa ini merupakan penyakit hati yang perlu diobati. Akupun pernah merasakan hal ini. Pernah kualami satu kejadian dan aku berdoa tapi belum juga melihat pengabulan. Lalu datanglah Iblis dengan rangkaian tipuannya. Kadang dia membisikkan, kemuliaan Allah itu luas, Allah tidak mungkin pelit lalu apa manfaatnya diulurkan?!
Maka kukatakan padanya, rasakan sendiri wahai terlaknat, aku tak butuh pengaduan dan tak pernah mengangkatmu menjadi jadi juru bicara.
Lalu aku kembali pada diriku dan kukatakan padanya, jangan sekali-kali kau membiarkan bisikannya bertengger, karena andai penguluran ijabah doa itu hanya membawa hikmah melawan bisikan Iblis sang musuh itu maka cukuplah itu sebagai hikmah.
Lalu diriku ini bertanya kepadaku mengapa doa ditangguhkan pengabulannya di saat genting seperti ini?
Kukatakan padanya, telah jelas berdasarkan dalil yang nyata bahwa Allah Azza wa Jalla adalah pemilik, dan sang pemilik berhak melakukan apapun baik melarang ataukah memberi. Maka, tak ada alasan untuk menentangnya.
Kedua, telah jelas pula hikmah dari Allah dengan dalil-dalil yang pasti kebenarannya, bisa jadi kau melihat ada maslahat dalam satu hal padahal hikmah Allah tidak mengatakan demikian. Lihatlah bagaimana perbuatan seorang tabib kadang tak terlihat apa faedahnya secara kasat mata, tapi dia sendiri bermaksud ada maslahat di balik itu semua. Bisa jadi penguluran ijabah ini adalah salah satu dari kehendak hikmah tersebut.
Ketiga, bisa jadi dalam penguluran waktu itulah terdapat maslahat dan bila dikabulkan segera akan menimbulkan bahaya. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri telah bersabda, “Seorang hamba akan senantiasa dalam kebaikan selama dia tidak tergesa-gesa, yaitu ketika dia merasa aku telah berdoa tapi kok belum dikabulkan juga.”
Keempat, ada kemungkinan tidak terkabulnya doa itu lantaran sebab dirimu sendiri. Mungkin kau makan yang syubhat, atau saat berdoa hatimu lalai, atau ditambahkan hukumanmu dengan tidak mengabulkan keinginanmu lantaran kau telah melakukan suatu dosa yang kau belum benar-benar bertobat darinya. 
Maka carilah wahai diri siapa tahu ada sebab-sebab tersebut yang terjadi. Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Zaid bahwa ada seorang asing singgah di rumahnya lalu dia datang dan melihat orang itu. Kemudian dia berdiri di pintu rumah lalu memerintahkan seorang temannya. Temannya ini masuk dan menanggalkan tanah baru (bekas perjalanan orang asing itu –penerj) yang baru saja tertempel bekasnya. Lalu orang asing tadi pergi. Abu Zaid pun ditanya tentang hal itu dan dia menjawab, “Tanah itu berasal dari arah yang syubhat, maka ketika syubhat itu telah hilang, hilang pula pemiliknya.”
Dari Ibrahim Al-Khawash rahimahullah bahwa dia keluar untuk mencegah sebuah kemungkaran, lalu dia disalaki anjing membuatnya tak jadi pergi dan malah masuk ke masjid kemudian shalat. Lalu dia keluar lagi dan anjing itu telah menunduk mengepakkan ekornya dan dia bisa berlalu mencegah kemungkaran tersebut sehingga kemungkaran itupun berhasil dihilangkan. Dia ditanya apa di balik kejadian itu, dan dia menjawab, “Aku punya satu kemungkaran (dosa) dan anjing itu mencegahku. Ketika aku kembali dan bertobat maka jadilah seperti yang kalian lihat.”
Kelima, hendaknya pencarian akan maksudmu itu sesuai dengan apa yang dituntut, bisa jadi keberhasilannya akan menambah dosa atau menghalangimu mendapat satu tingkat kebaikan, sehingga akan lebih baik dia tidak dikabulkan. Ada riwayat dari salah seorang salaf di mana dia meminta kepada Allah untuk bisa dikabulkan pergi berjihad, lalu ada yang membisikinya, kalau kamu pergi berperang maka kau akan ditawan, dan kalau sudah ditawan kau akan masuk Kristen.”
Keenam, Bisa jadi terlambatnya pengabulan doa itu membuatmu jadi betah bersimpuh memohon kepada Allah, yang kalau segera dikabulkan membuatmu lupa akan Allah yang kepada-Nya kau meminta. Ini cukup sering terjadi, buktinya kalau bukan karena peristiwa yang menimpa ini maka kami tak pernah melihatmu di pintu rintihan (doa kepada Allah). Maka Al-Haq Azza wa Jalla tahu apa yang bisa membuat hamba-Nya lalai dari bakti kepada-Nya, sehingga Dia hilangkan kesenangan dengan peristiwa yang membuat si hamba ini terpaksa mengadu kepada-Nya untuk minta pertolongan. Sebab kesenangan itu bisa jadi merupakan ujian. Sebab musibah sebenarnya adalah ketika kau sibuk dari mengingat Allah dan apa yang membuatmu senantiasa bersimpuh di hadapan-Nya justru itulah yang terbaik buatmu.
Ada satu kisah dari Yahya Al-Bakka` bahwa dia mimpi melihat Tuhannya Azza wa Jalla, dia berkata, “Tuhanku, berapa banyak aku telah berdoa kepada-Mu tapi tak Kau kabulkan.’
Tuhan menjawab, “Wahai Yahya, sunggung Aku senang mendengar suaramu (untuk selalu berdoa).”
Kalau kau sudah merenungi hal ini semua maka kau akan makin sibuk dengan apa yang lebih bermanfaat untukmu, dari pada mengeluhkan apa yang belum kau dapatkan. Manfaat itu bisa berupa hilangnya penghalang ibadah, atau membuatmu makin sering tobat dari salah, atau senantiasa mengetuk pintunya Allah.” (Dari kitab Shaidul Khathir jilid 1 hal. 82-84).

Penulis: Ustadz Anshari Taslim
Mudir Pesantren Bina Insan Kamil, Jakarta

Wednesday, December 13, 2017

7 Catatan Mengenai Adab Doa

Ada tujuh catatan berharga mengenai adab doa.
Catatan #01
Tidak Boleh Berkata, “Aku Sudah Berdoa Lalu Tidak Terkabul”
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,
لاَ يَزَالُ يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ مَا لَمْ يَسْتَعْجِلْ ». قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الاِسْتِعْجَالُ قَالَ: يَقُولُ قَدْ دَعَوْتُ وَقَدْ دَعَوْتُ فَلَمْ أَرَ يَسْتَجِيبُ لِى فَيَسْتَحْسِرُ عِنْدَ ذَلِكَ وَيَدَعُ الدُّعَاءَ
“Doa seorang hamba akan senantiasa dikabulkan, selama dia berdo’a bukan untuk keburukan atau memutus tali silaturahim dan selama dia tidak tergesa-gesa dalam berdo’a. Kemudian seseorang bertanya, ‘Ya Rasulullah, apa yang dimaksud tergesa-gesa dalam berdoa?’ Kemudian Rasulullah menjawab, yaitu seseorang yang berkata, ‘Sungguh aku telah berdo’a dan berdo’a, namun tak juga aku melihat do’aku dikabulkan’, lalu dia merasa jenuh dan meninggalkan do’a tersebut.” (HR. Muslim, no. 2735)
Yang dimaksud di sini adalah ia memutus doa. Teladanilah malaikat, di mana dalam ayat disebutkan,
وَلَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ عِنْدَهُ لَا يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَلَا يَسْتَحْسِرُونَ
“Dan kepunyaan-Nyalah segala yang di langit dan di bumi. Dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih.” (QS. Al-Anbiya’: 19). Maksudnya adalah malaikat tidak berputus asa dari berdoa. Yang kita bisa ambil contoh adalah kita juga hendaknya terus menerus dalam berdoa dan terus menaruh harapan terkabulnya. (Syarh Shahih Muslim, 17:47)
Catatan #02
Menghadirkan Hati Ketika Memanjatkan Doa
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ
“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi, no. 3479. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan.)

Catatan #03
Menyanjung Allah Lalu Berdoa
Dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, ada seorang Arab Badui menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Ajarkanlah kepadaku suatu kalimat yang aku bisa mengucapkannya.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ucapkanlah: LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH, ALLAHU AKBAR KABIIRO, WALHAMDULILLAHI KATSIROO, WA SUBHANALLAHI ROBBIL ‘ALAMIN, WA LAA HAWLA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAHIL ‘AZIZIL HAKIM (Artinya: Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Allah Maha Besar, segala puji bagi Allah yang banyak, Maha Suci Allah Rabb semesta alam, serta tidak ada daya dan upaya kecuali bersama Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana).”
Orang Arab Badui itu berkata, “Itu semua untuk Rabbku, lalu manakah untukku?” Beliau menjawab, “Ucapkanlah: ALLAHUMMAGHFIR LII WARHAMNII WAHDINII WARZUQNII (Artinya: Ya Allah, ampunilah aku, rahmatilah aku, berilah aku hidayah).” (HR. Muslim, no. 2696)
Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali hafizahullah menyatakan bahwa disunnahkan untuk berdzikir dan menyanjung Allah sebelum doa. Karena Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan Arab Badui tersebut sanjungan kepada Allah dahulu sebelum doa. Ini yang disebut at-takhliyyah qabla at-tahliyyah, membersihkan dahulu sebelum menghiasi dan mengisi. (Lihat Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. 2:448.)

Catatan #04
Bershalawat kepada Nabi Saat Berdoa
Ibnul Qayyim menyatakan bahwa ada tiga tingkatan dalam bershalawat saat doa:
a- Bershalawat sebelum memanjatkan doa setelah memuji Allah.
b- Bershalawat di awal, pertengahan dan akhir doa.
c- Bershalawat di awal dan di akhir, lalu menjadikan hajat yang diminta di pertengahan doa.
Mengenai perintah bershalawat saat akan memanjatkan doa disebutkan dalam hadits Fudholah bin ‘Ubaid, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendengar seseorang memanjatkan doa dalam shalatnya, lalu ia tidak memanjatkan shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau pun berkata, “Orang ini terlalu tergesa-gesa dalam doanya.” Kemudian beliau memanggilnya lalu menegurnya atau mengatakan kepada lainnya, “Jika salah seorang di antara kalian berdoa, maka mulailah dengan memuji Allah, menyanjung-Nya, lalu bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mintalah doa yang diinginkan.” (HR. Tirmidzi, no. 3477 dan Abu Daud, no. 1481. Abu Isa At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al-Hafizh Abu Thahir menilai sanad hadits tersebut hasan.)
Ibnul Qayyim menyatakan pula bahwa membaca shalawat pada saat berdoa, kedudukannya seperti membaca Al-Fatihah dalam shalat. Jadi pembuka doa adalah shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Untuk shalat, pembukanya adalah dengan bersuci.
Ahmad bin Abu Al Hawra’ pernah mendengar Abu Sulaiman Ad-Daraniy berkata, “Siapa yang ingin memanjatkan hajatnya kepada Allah, maka mulailah dengan bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mintalah hajatnya. Kemudian tutuplah doa tersebut dengan shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena shalawat kepada beliau akan membuat doa tersebut maqbulah (mudah diterima).” (Jalaa’ Al-Afham, hlm. 335-336).
Dari Zirr, dari ‘Abdullah, ia berkata, “Aku pernah shalat dan kala itu Abu Bakr dan ‘Umar bersama dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika aku duduk, aku memulai doaku dengan memuji Allah, lalu bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian aku berdoa untuk diriku sendiri. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Mintalah, engkau akan diberi. Mintalah, engkau akan diberi.” (HR. Tirmidzi, no. 593. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan.)
‘Umar radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan,
إِنَّ الدُّعَاءَ مَوْقُوفٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ لاَ يَصْعَدُ مِنْهُ شَىْءٌ حَتَّى تُصَلِّىَ عَلَى نَبِيِّكَ -صلى الله عليه وسلم-
“Sesungguhnya doa itu diam antara langit dan bumi, tidak naik ke atas hingga engkau bershalawat kepada Nabimu shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Tirmidzi, no. 486. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan.)

Catatan #05
Cara Mengangkat Tangan Ketika Berdoa
Dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, “Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang seroang laki-laki yang telah lama berjalan karena jauhnya jarak yang ditempuhnya. Sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdoa, ‘Wahai Rabbku, wahai Rabbku.’ Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dengan makanan yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan doanya?” (HR. Muslim, no. 1015)
Ada dua cara mengangkat tangan ketika berdoa secara umum yang disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali:
1- Mengangkat tangan dengan menjadikan bagian punggung telapak tangan diarahkan ke arah kiblat, sambil yang berdoa menghadap kiblat, sedangkan bagian dalam telapak tangannya diarahkan ke arah wajah. Riwayat cara ini adalah dari contoh doa istisqa yang dipraktikkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
2- Mengangkat kedua tangan dengan menjadikan bagian dalam telapak tangan dihadapkan ke langit, lantas punggung telapak tangan dihadapkan ke bumi. Ada riwayat seperti dari Ibnu ‘Umar, Abu Hurairah, dan Ibnu Sirin. Lihat Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1:271-272.

Catatan #06
Bentuk Tawassul dalam Doa
1. Tawassul dengan menyeru nama dan sifat Allah seperti: Yaa Rabbi, Yaa Hayyu Yaa Qayyum.
2. Tawassul dengan menyebut amalan shalih yang terbaik.
3. Tawassul dengan perantaraan doa orang shalih yang masih hidup.

Catatan #07
Adab-Adab Berdoa Lainnya
1. Percaya kepada janji Allah bahwa doa itu terkabul.
2. Memilih waktu terbaik untuk berdoa.
3. Benar-benar merasa membutuhkan Allah.
4. Menghadap kiblat.
5. Berdoa dalam keadaan suci.
6. Mengangkat tangan saat berdoa.
7. Dahului dengan taubat dan istigfar, seperti doa Nabi Yunus ‘alaihis salam yang mengakui kezalimannya terlebih dahulu: LAA ILAAHA ILLAA ANTA SUBHAANAKA INNII KUNTU MINAZH ZHAALIMIIN (Artinya: Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang yang berbuat aniaya).
8. Meminta dengan penuh pengharapan yang besar dan rasa takut.
9. Bertawassul dengan nama dan sifat Allah.
10. Mendahului doa dengan sedekah.
11. Memilih doa yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an dan diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Semoga tujuh catatan mengenai adab-adab doa ini menjadi ilmu yang berharga dan bermanfaat serta bisa diamalkan.

Thursday, November 30, 2017

Ikutilah 15 Anjuran Nabi Ini Agar Terhindar Dari Kemiskinan

Dalam berbagai hadits, Rasulullah saw menyebut kiat agar kita terhindar dari kemiskinan.
1. Rasulullah bersabda: “Bila kalian masuk rumah hendaknya mengucapkan salam kepada penghuni rumah. Bila rumah itu kosong, hendaknya mengucapkan dan membaca surat Al Ikhlas, karena itu mencegah kemiskinan.”
2. Mengulang kalimat azan bersama muazin. Ada seorang sahabat mengadukan kemiskinan yang dialaminya, kemudian Rasulullah bersabda: “Tirukanlah kalimat-kalimat azan ketika muazin mengucapkannya.”
3. Membasuh muka denga air mawar. Rasulullah bersabda: “Siapa hendak keluar untuk memenuhi kebutuhannya, kemudian ia membasuh mukanya dengan air mawar, maka hajatnya akan dipenuhi dan ia tidak akan ditimpa kemiskinan.”
4. Mencuci dua tangan sebelum dan sesudah makan. Rasulullah bersabda: “Mencuci tangan sebelum makan mencegah kemiskinan dan mencuci sesudahnya mencegah kesumpekan.”
5. Menyisir jenggot setelah berwudhu. Rasulullah bersabda: “Menyisir jenggot setelah berwudhu mencegah kemiskinan.”
6. Berperilaku hemat. Rasulullah bersabda: “Aku menjamin bahwa orang yang hemat tak akan jatuh miskin.”
7. Memakan makanan yang tercecer. Rasulullah bersabda: “Siapa memungut makanan yang tercecer , lalu memakannya, maka kemiskinan akan menjauh darinya dan anak-anaknya hingga tujuh turunan.”
8. Memakai cincin firuz dan akik. Rasulullah bersabda: “Orang yang memakai cincin firus tidak akan jatuh miskin. “Dalam riwayat lain Rasulullah Saw bersabda, bahwa cincin akik mencegah kemiskinan dan kemunafikan.
9. Membaca seratus kali setiap hari. Rasulullah Saw bersabda: “Sesiapa membaca seratus kali setiap hari, maka ia akan mendapat kekayaan, menolak kemiskinan, menutup pintu neraka dan membuka pintu surga.”
10. Membaca surat Al Bayyinah. Rasulullah Saw bersabda: “Siapa membaca surat Al Bayyinah, tak akan dimasuki keraguan dalam agamanya dan tak akan diuji Allah dengan kemiskinan.”
11. Menyisir rambut. Rasulullah bersabda: “Menyisir rambut mencegah kemiskinan dan menghilangkan penyakit.”
12. Membaca surat Al Waqiah setiap malam. Rasulullah bersabda: “Siapa membaca surat Al Waqiah setiap malam, tidak akan jatuh miskin selamanya.”
13. Menyapu rumah. Rasulullah bersabda: “Menyapu rumah menghilangkan kemiskinan.”
14. Menyalakan lampu sebelum gelap. Rasulullah bersabda: “Menyalakan lampu sebelum matahari tenggelam mencegah kemiskinan.”
15. Selalu menjaga wudhu. Rasulullah bersabda: “Wudhu sebelum dan sesudah makan mencegah kemiskinan dan menambah rezeki.”
Sumber: Buku Mutiara Tersembunyi Warisan Nabi

Tuesday, November 28, 2017

Inilah Doa Pembuka Rezeki Dari Arah yang Tak Pernah Disangka-sangka


Rezeki sejatinya sudah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa. Namun untuk menghadirkannya, manusia harus berikhtiar dan berusaha. Tidak hanya itu, semua yang dilakukan harus disertai dengan doa.
Namun banyak orang yang mengenyampingkan peran doa dalam menjemput rezeki. Sehingga ada yang sudah bekerja begitu keras, namun hasilnya tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Padahal doa begitu penting agar rezeki bisa datang dengan lancar. Bermunjat kepada Tuhan membuat peluang datangnya rezeki manjadi lebih lebar. Lantas, apa saja doa pembuka rezeki yang bisa kita amalkan? Berikut ulasannya.
Ternyata doa-doa ini tertulis dalam Alquran dan beberapa lagi berasal dari hadist Nabi Muhammad SAW. Ada sembilan doa yang bisa diterapkan agar  rezeki datang dari arah yang tak pernah disangka-sangka.
1. Surat al-Maidah Ayat 114 
Doa pembuka rezeki pertama yang bisa diterapkan tertulis dalam QS. Al-Maidah 5: 114. Ini merupakan penggalan dari doa Nabi Isa putera Siti Maryam yang meminta hidangan dari langit. Allah SWT menurunkan hidangan yang terdiri dari roti, ikan, delima, dan buah-buahan, serta beragam lainnya.
“Allaahumma rabbanaa anzil ‘alainaa maaidatan minas samaai takuunu lanaa ‘idan liawwalinaa wa aakhirinaa wa ayatan minka warzuqna wa anta khairur raaziqiina”.
Isa putera Maryam berdoa: “Ya Tuhan kami turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rezekilah kami, dan Engkaulah pemberi rezeki Yang Paling Utama“. [QS. Al Maidah 5:114]
2. Surat ath-Thalaaq Ayat 3
Doa pembuka rezeki selanjutnya tertulis dalam Alquran Surat Ath-Thalaaq:3.
“Wayarzuqhu min haitsu laa yahtasibu waman yatawakkal ‘alallahi fahuwa hasbuhu innallaha baalighu amrihi qad ja’alalahu likulli syai-in qadran”.
Arti: Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS.65:3)
3. Surat al-Qasas Ayat 24
“Fasaqa lahuma thumma tawalla ila alththilli faqala rabbi innee lima anzalta ilayya min khayrin faqeerun”.
Arti: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku”. (QS. Al-Qasas 28: 24)
4. Surat Shaad Ayat 35
“Qala rabbi ighfir lee wahab lee mulkan la yanbaghee liahadin min baAAdee innaka anta alwahhabu”.
Arti: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang pun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.” (QS. Shaad 38: 35).
5. Hadist Nabi Muhammad SAW
Ada pula doa pembuka rezeki yang diajarkan Nabi Muhammad SAW. Seperti apa doanya? Berikut ulasannya.
  • “Allahumma innii as-aluka ‘ilman naafi’a, wa rizqon thoyyibaa, wa ‘amalan mutaqobbalaa.”. Arti: “Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat (bagi diriku dan orang lain), rezeki yang halal dan amal yang diterima (di sisi-Mu dan mendapatkan ganjaran yang baik).” (HR. Ibnu Majah, no. 925 dan Ahmad 6: 305, 322. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih)
  • “Allahumak-finii bi halaalika ‘an haroomik, wa agh-niniy bi fadhlika ‘amman siwaak.”. Arti: “Ya Allah cukupkanlah aku dengan yang halal dan jauhkanlah aku dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu.” (HR. Tirmidzi no. 3563. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)
  • “Allahummaghfirlii, warhamnii, wahdinii, wa ‘aafinii, warzuqnii.”. Arti: Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, berilah petunjuk padaku, selamatkanlah aku (dari berbagai penyakit), dan berikanlah rezeki kepadaku”. (HR. Muslim no. 35, 2697)
  • “Robbighfirlii warahmnii, wajburnii, warfa’nii, warzuqnii, wahdinii”. Arti: Ya Allah ampunilah aku, rahmatilah aku, cukupkanlah aku, tinggikanlah derajatku, berilah rezeki dan petunjuk untukku).” (HR. Ahmad 1: 371. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa haditsnya hasan).
  • “Allahumma ak-tsir maalii wa waladii, wa baarik lii fiimaa a’thoitanii wa athil hayaatii ‘ala tho’atik wa ahsin ‘amalii wagh-fir lii”. Arti: “Ya Allah perbanyaklah harta dan anakku serta berkahilah karunia yang Engkau beri. Panjangkanlah umurku dalam ketaatan pada-Mu dan baguskanlah amalku serta ampunilah dosa-dosaku.
Semoga informasi tentang doa pembuka rezeki ini bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Terimakasih sudah membaca, semoga bermafaat.

Semoga informasi tentang doa pembuka rezeki ini bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Terimakasih sudah membaca, semoga bermafaat.


Wednesday, November 22, 2017

Agar Ditolong Allah

MANUSIA disebut makhluk ‘”Hauqolah” artinya makhluk yang lemah, tidak berdaya, tidak memiliki kekuatan kecuali Allah Menolongnya.
Bukti kita lemah, tak berdaya menahan mata dari rasa ngantuk, perut dari lapar, mulut dan tenggorokan dari rasa haus, kulit berkeringat dari rasa kegerahan, rambut rontok dari ketombe, dll. Disisi lain kita juga sering dihadapkan banyak persoalan ujian dan cobaan.
Kondisi seperti ini sering kali membuat kita resah, gelisah, cemas, sakit, lemah tak berdaya. Dan karenanya kita sangat membutuhkan pertolongan dan bantuan. Sehingga kita bisa membuat kita keluar dari belenggu-belenggu kehidupan yang mendera.
Menghiba kepada orang terkadang bukan solusi yang didapat malah sebaliknya semakin menambah beban persoalan, berharap bantuan orang lain yang datang terkadang cercaan
Mengapa demikian? Karena memang manusia itu lemah, tidak bisa memberikan kebahagiaan tanpa izin Allah, maka satu-satunya yang harus menjadi sandaran kita hanya Allah, dialah yang Maha Menolong, yang maha Kasih dan Sayang.
Bagaimana supaya kita layak ditolong oleh Allah? Berikut ini diantara tips agar Allah menolong kita.

1. Memperkuat iman dan taqwa kepada Allah. Jalankan perintahnya Nya, hindarkan larangan Nya.

2. Selalu ikhlas menolong orang lain yang membutuhkan. Semakin banyak kita menolong dan     
    beramal secara ikhlas, semakin banyak pula orang yang akan mendoakan kita.

3.Senantiasa ikhtiar. Pertolongan Allah SWT tidak hanya cukup dengan berdoa, tetapi tanpa ikhtiar.

4. Do’a yang khusu kepada Allah SWT ikut membantu mencapai pertolongan itu,

5. Senantiasa tawakal. Menyerahkan diri seluruhnya kepada Allah SWT. []

Sumber: DaarutTauhid.org

Inilah Beberapa Sunnah Nabi yang Disarankan Untuk Dikerjakan Ketika Hujan

Sunnah Pertama

Sungguh dulu Rasulullah jika melihat hujan, beliau berdoa:
اللَّهمَّ صيِّبًا نافعًا
“Ya Allah turunkanlah hujan yang bermanfaat.”
Yakni hujan yang tercurah berlimpah. (Dishahihkan Al-Albani dalam shahih Al-Adab Al-Mufrad).
Sunnah Kedua

Menyingkap sebagian badannya agar terkena air hujan. Dari Anas radhiyallahu’anhu berkata:
Kami tertimpa hujan bersama Rasulullah lalu beliau menyingkap baju sampai sebagian badan beliau terkena air hujan, lalu kami bertanya: “Untuk apa anda melakukan begini?” Beliau menjawab: “Karena hujan ini baru saja dari sisi Rabbnya.” (HR. Muslim)

Sunnah Ketiga

Berdoa kepada Allah di tengah turunnya hujan, karena ketika itu adalah waktu dikabulkannya doa, karena bertepatan turunnya rahmat dari rahmat Allah Azza wa jalla. Sebagaimana Nabi bersabda:
“Dua doa yang tidak akan ditolak: Doa ketika adzan dan doa di bawah hujan.” (Dihasankan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami no 3078.)
Sunnah Keempat

Ucapkanlah sesudah hujan reda:
مُطِرنا بفضلِ اللَّهِ ورحمتِهِ
Kami diberi hujan dengan sebab karunia Allah dan rahmat-Nya.
(( مُطِرنا بفضلِ اللَّهِ ورحمتِهِ ))
Ditekankan untuk beramal dengan hadits ini dan meyakini maknanya pada zaman sekarang ini.
Karena melihat sebagian manusia sudah mulai menggantungkan turunnya hujan kepada kondisi udara, dan mereka berpatokan dengan pendapat ahli cuaca.
Dalam sebuah hadits beliau shalat subuh dengan para sahabatnya di Hudaibiyah dalam bekas hujan tadi malam. Tatkala beliau selesai shalat, beliau menghadap manusia lalu bersabda:
“Tahukah kalian apa yang difirmankan Rabb kalian?”
Mereka menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yg lebih tahu.”
Beliau bersabda: “Allah ta’ala berfirman: Pada pagi hari ada diantara hamba-Ku yang beriman kepada-Ku dan kafir.”
Adapun yang mengatakan Kita diberi hujan karena karunia Allah dan Rahmat-Nya, maka ia telah beriman kepadaKu dan kafir kepada bintang. Dan adapun yang mengatakan:
“Kita diberi hujan karena bintang ini dan itu, maka ia telah kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang.” (Muttafaq alaih 71-1038)
Sunnah Kelima

Ketika hujan sangat deras dan kawatir membahayakan, sebagian mereka berdoa kepada Allah agar Allah menghentikan hujannya, dan ini bukan termasuk sunnah. Bahkan hendaknya ia berdoa dengan doa Rasulullah:
“Ya Allah turunkanlah hujan di sekeliling kami, dan tidak dari atas kami. Ya Allah turunkanlah hujan di gunung, bukit, lembah dan di tempat tumbuhnya pepohonan.” (Muttafaq alaih 897-1014)
Sumber: islamituindah.com.my

Inilah Doa Ampuh Ketika Dirundung Duka

Doa ini sangat bermanfaat dan baik diamalkan oleh orang yang sedang dirundung duka.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada Fatimah (puterinya),
“Apa yang menghalangimu untuk mendengar wasiatku atau yang kuingatkan padamu setiap pagi dan petang yaitu ucapkanlah:
يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ أَبَدًا
Ya hayyu ya qoyyum bi rahmatika astaghiits, wa ash-lihlii sya’nii kullahu wa laa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ainin abadan” (artinya: Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri tidak butuh segala sesuatu, dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekali pun sekejap mata tanpa mendapat pertolongan dari-Mu selamanya).” (HR. Ibnu As Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 46, An Nasai dalam Al Kubro 381: 570, Al Bazzar dalam musnadnya 4/ 25/ 3107, Al Hakim 1: 545. Sanad hadits ini hasan sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah no. 227).
Ada juga doa yang lafazhnya hampir mirip dengan lafazh di atas dari hadits Abu Bakroh radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
دَعَوَاتُ الْمَكْرُوبِ اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلاَ تَكِلْنِى إِلَى نَفْسِى طَرْفَةَ عَيْنٍ وَأَصْلِحْ لِى شَأْنِى كُلَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ
Doa orang yang dirundung duka: Allahumma rahmataka arjuu fa laa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ainin wa ash-lihlii sya’nii kullahu laa ilaha illa anta (artinya: Ya Allah, dengan rahmat-Mu, aku berharap, janganlah Engkau sandarkan urusanku pada diriku walau sekejap mata, perbaikilah segala urusanku seluruhnya, tidak ada ilah yang berhak disembah selain Engkau).” (HR. Abu Daud no. 5090, Ahmad 5: 42. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan karena mengingat adanya penguat).
Doa di atas adalah doa yang luar biasa yang di dalamnya berisi tahqiqul ‘ubudiyah yaitu perealisasian penghambaan pada Allah. Di dalamnya juga terdapat bentuk tawasul pada Allah lewat nama dan sifat-Nya.
Diawali Tawassul
Hamba sangat menggantungkan diri, berharap pertolongan selamanya pada Allah yang berdiri sendiri dan tidak bergantung pada makhluk-Nya.
Dalam doa itu berisi permintaan tolong dari suatu musibah dengan tawassul pada sifat rahmat Allah yang meliputi segala sesuatu. Yang diharap adalah kebahagiaan dunia dan akhirat.
Diperbaiki Segala Urusan
Lalu setelah tawasul seperti itu, di dalamnya berisi permintaan untuk diperbaiki segala urusan. Segala urusan tersebut mencakup urusan di rumah, problema rumah tangga, urusan dengan tetangga dan sahabat, urudan dalam pekerjaan dan studi.
Termasuk di dalamnya pula diperbaiki keadaan diri, diperbaiki hati dan kesehatan serta segala yang berkaitan dengan diri kita. Yang kita minta pada Allah adalah perbaikan dan keselamatan.
Kemudahan Dari Allah 
Semua kemudahan itu adalah karunia Allah, bukan usaha dan kerja keras hamba, bukan pula karena kedudukan hamba yang mulia.
Karenanya di akhir do’a ditutup dengan bentuk pasrah dan butuh pada Allah yang sempurna dengan ucapan “wa laa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ainin”, janganlah sandarkan urusan tersebut pada diriku walau sekejap mata.
Maksudnya adalah janganlah urusan tersebut disandarkan pada diri yang lemah ini walau sekejap mata. Berilah terus keselamatan selamanya, begitu pula berilah pertolongan dengan kekuatan dari Allah.
Karena siapa yang bertawakkal pada Allah, maka Dia akan memudahkan urusannya. Siapa yang meminta tolong pada Allah, Dia akan beri pertolongan. Setiap hamba pasti selalu butuh pada Allah, tidak bisa lepas dari-Nya walau sekejap mata.
Al Munawi berkata untuk penjelasan hadits doa ketika dirundung duka, “Siapa yang mentauhidkan Allah dan pasrah pada-Nya, maka ia akan dihilangkan berbagai kesulitan di dunia dan akan meraih rahmat serta akan ditinggikan derajat di akhirat.” (Faidul Qadir, 3: 526).
Ringkasnya, doa yang kami sebutkan dalam dua versi di atas adalah bagian dari dzikir pagi petang dan bisa mengangkat berbagai kesedihan dan kesulitan orang yang dirundung duka. Silakan diamalkan.
Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.
Sumber: rumaysho.com