Saturday, December 29, 2018

Bersama Kesulitan Ada Kemudahan

Dunia memang sengaja Allah Ta’ala ciptakan sebagai tempat ujian, tidak satu sisipun dibelahan dunia yang dihuni manusia tanpa adanya ujian. Baik yang tidak beriman maupun yang beriman semua mendapat bagian yang sama didalam menerima ujian. Orang beriman semakin bertambah keimanannya semakin berat pula ujian yang diterimanya.
Semua bentuk ujian dari semua sisi, baik berupa kekayaan harta maupun kekurangan harta, karena dengan itu Allah Ta’ala ingin menseleksi siapa diantara hambanya yang terbaik amalnya. Allah Ta’ala, berfirman:
الَّذِى خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
“yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun,” (QS. Al-Mulk 67: Ayat 2)
Ayat diatas memberi penjelasan kepada kita bahwa Allah Ta’ala tidak menyebutkan banyak amalnya tetapi yang baik amalnya, baik menurut para mufasir adalah sesuai perintah Allah dan contoh NabiNya, Artinya kwalitas lebih utama daripada kwantitas, namun jika kwalitas sudah baik ditambah dengan kwantitas itu yang paling utama.
Namun dibalik ujian berupa banyak kesulitan dan penderitaan ada kemudahan yang mengiringinya. Allah Ta’ala berfirman,
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan,” (QS. Al-Insyirah 94: Ayat 5)
Allah Ta’ala menceritakan bahwa sesungguhnya sesudah kesulitan pasti ada kemudahan, kemudian berita ini diulangi-Nya lagi.
قَالَ ابْنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنَا ابْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى حَدَّثَنَا ابْنُ ثَوْرٍ عَنْ مَعْمَر عَنِ الْحَسَنِ قَالَ: خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا مَسْرُورًا فَرِحًا وَهُوَ يَضْحَكُ وَهُوَ يَقُولُ: “لَنْ يَغْلِب عُسْر يُسْرَيْنِ لَنْ يَغْلِبَ عُسْرٌ يُسْرَيْنِ فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا”.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abdul A’la, telah menceritakan kepada kami Ibnu Saur, dari Ma’mar, dari Al-Hasan yang mengatakan bahwa di suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dalam keadaan senang dan riang seraya tersenyum, lalu bersabda: Satu kesulitan tidak akan dapat mengalahkan dua kemudahan, satu kesulitan tidak akan dapat mengalahkan dua kemudahan. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
Dan termasuk di antara nasihat yang bersumber dari Imam Syafii disebutkan sebagai berikut:
صَبرا جَميلا مَا أقرَبَ الفَرجا … مَن رَاقَب اللَّهَ فِي الْأُمُورِ نَجَا …
مَن صَدَق اللَّهَ لَم يَنَلْه أذَى … وَمَن رَجَاه يَكون حَيثُ رَجَا …
Bersabarlah dengan kesabaran yang baik, maka alangkah dekatnya jalan kemudahan itu. Barang siapa yang merasa dirinya selalu berada dalam pengawasan Allah dalam semua urusan, niscaya ia akan selamat.
Dan barang siapa yang membenarkan janji Allah, niscaya tidak akan tertimpa oleh musibah. Dan barang siapa yang berharap kepada Allah, maka akan terjadilah seperti apa yang diharapkan.
Ibnu Duraid mengatakan bahwa Abu Hatim As-Sijistani telah membacakan bait-bait syair berikut kepadanya, yaitu:
إِذَا اشْتَمَلَتْ عَلَى الْيَأْسِ القلوبُ … وَضَاقَ لِمَا بِهِ الصَّدْرُ الرحيبُ …
وَأَوْطَأَتِ الْمَكَارِهُ وَاطْمَأَنَّتْ … وَأَرْسَتْ فِي أَمَاكِنِهَا الخطوبُ …
وَلَمْ تَرَ لِانْكِشَافِ الضُّرِّ وَجْهًا … وَلَا أَغْنَى بحيلته الأريبُ
أَتَاكَ عَلَى قُنوط مِنْكَ غَوثٌ … يَمُنُّ بِهِ اللَّطِيفُ المستجيبُ …
وَكُلُّ الْحَادِثَاتِ إِذَا تَنَاهَتْ … فَمَوْصُولٌ بِهَا الْفَرَجُ الْقَرِيبُ …
Bilamana hati dipenuhi oleh rasa putus asa, dan dada yang luas menjadi terasa sempit, dan hal-hal yang tidak disukai datang menimpa diri, serta banyak musibah yang dialaminya, sehingga ia tidak melihat adanya celah untuk melepaskan diri dari bahaya yang sedang menimpa diri, dan tiada gunanya lagi semua upaya untuk menanggulanginya. Maka akan datanglah kepadamu pertolongan bila hatimu berserah diri kepada-Nya, yaitu pertolongan dari Tuhan Yang Maha lembut lagi Maha Memperkenankan doa. Semua musibah apabila telah mencapai puncaknya pasti berhubungan langsung dengan jalan keluarnya yang tidak lama.
Wallahu a’lam
Abu Miqdam
Komunitas Akhlaq Mulia

Friday, December 14, 2018

Keutamaan Shalat Tahajud

Di antara ibadah sunah yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah SAW adalah shalat malam (Tahajud). Rasulullah mengerjakannya hingga kedua telapak kaki beliau bengkak-bengkak. Tahajud merupakan ibadah yang disyariatkan sebagai rahmat, tambahan kebaikan, dan keutamaan (QS Al-Muzzammil [73]: 1-4).

Shalat Tahajud menjadi jalan hidup dan amalan rutin bagi orang-orang saleh (HR Tirmidzi); orang-orang besar (takwa) (QS Adz-Dzariyat [51]: 17-18); ’Ibadurrahman (QS Al-Furqan [25]: 64); dan menjadi salah satu ciri orang-orang yang memiliki kesempurnaan iman (QS As-Sajdah [32]: 16-17).
Selain menjadi sumber energi keimanan, shalat Tahajud memiliki banyak manfaat yang dapat dirasakan secara langsung oleh orang-orang yang melaksanakannya. 

Pertama, menjaga kesehatan.
Sabda Nabi SAW, Lakukanlah shalat malam karena itu adalah tradisi orang-orang saleh sebelum kalian, sarana mendekatkan diri kepada Allah, pencegah dari perbuatan dosa, penghapus kesalahan, dan pencegah segala penyakit dari tubuh.”

Kedua, merawat ketampanan/kecantikan. 
Barang siapa yang banyak menunaikan shalat malam, maka wajahnya akan terlihat tampan/cantik di siang hari.” (HR Ibnu Majah). 

Ketiga, meningkatkan produktivitas kerja.
Setan membuat ikatan pada tengkuk salah seorang di antara kalian ketika tidur dengan tiga ikatan dan setiap kali memasang ikatan dia berkata: ‘Malam masih panjang, maka tidurlah.’ Jika orang tadi bangun lalu berzikir kepada Allah SWT, maka terlepas satu ikatan, jika dia berwudhu, maka terlepas satu ikatan yang lainnya, dan jika dia melaksanakan shalat, maka terlepas semua ikatannya.
Pada akhirnya, dia akan menjadi segar dengan jiwa yang bersih. Jika tidak, dia akan bangun dengan jiwa yang kotor yang diliputi rasa malas.” (HR Bukhari).

Keempat, mempercepat tercapainya cita-cita dan rasa aman.
Ketahuilah sesungguhnya Allah tertawa terhadap dua orang laki-laki: Seseorang yang bangun pada malam yang dingin dari ranjang dan selimutnya, lalu ia berwudhu dan melakukan shalat. Allah SWT berfirman kepada para Malaikat-Nya, Apa yang mendorong hamba-Ku melakukan ini?” Mereka menjawab, Wahai Rabb kami, ia melakukan ini karena mengharap apa yang ada di sisi-Mu.” Allah berfirman, Sesungguhnya Aku telah memberikan kepadanya apa yang ia harapkan (cita-citakan) dan memberikan rasa aman dari apa yang ia takutkan.” (HR Ahmad).

Kelima, melembutkan hati yang keras.
Dari Abu Hanifah, Saya tidak lebih dari satu ayat yang saya baca ketika melakukan shalat malam.” Satu ayat tersebut dibaca berulang-ulang semalam suntuk, Sesungguhnya hari kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka dan kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit.” (QS Al-Qamar [54]: 46). Karena itu, bersegeralah untuk menunaikan shalat Tahajud dan raih manfaatnya (balasannya) (QS As-Sajdah [32]: 17). Wallahu a’lam.

Sumber : REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Imam Nur Suharno

Thursday, November 22, 2018

Bersiap Menjadi Pemimpin



Beruntung orang yang beriman. Tapi, jika hanya iman jelas tidaklah cukup. Karena itu, cukupkanlah dengan amal saleh. Tapi sayang, pesan Alquran dalam surah al-'Ashr, iman dan amal saleh masih dianggap belum cukup; kecuali diiringi dengan upaya saling mengingatkan kepada kebaikan dan kesabaran.
Pesan moral Alquran dalam surah ke-103 ini melandasi atas pentingnya nilai-nilai yang disebut di atas. Bahkan atas dasar itu, Allah SWT harus turut bersumpah dengan atas nama makhluk-Nya yang bernama 'waktu' (al-'Ashr). Ada hasrat Allah yang tersurat, yaitu ingin semua manusia berada dalam keberuntungan hidup bukan justru berkubang dalam sumur kerugiaan.
Nah, untuk menyebut supaya kita tidak didera kerugiaan (lafii khusrin), upaya memupuk keimanan dan amal saleh harus juga disertai dengan usaha saling mengingatkan kepada kebaikan dan kesabaran. Mengapa harus iman? Karena, ia adalah fondasi; hal yang fundamental dalam membangun sikap keberagamaan manusia.
Iman yang menyebabkan rasa aman, damai, dan tenang dalam menapak di planet kehidupan. Iman pula yang menghadirkan rasa tanggung jawab (amanah) dalam hidup. Karena iman, ia akan dipercaya (amin) dan dalam setiap rangkaian harap dan doa akan sangat didengar (amin). Ada keselamatan dan bimbingan keberuntungan hidup dengan kita beriman.
Surah an-Nisa, ayat 138 menyebutkan, “Barang siapa yang tidak beriman (kufur) kepada Allah, malaikat, kitab-kitab Allah, para rasul, dan Hari Akhir maka ia tersesat dengan kesesatan yang jauh.” Lalu, mengapa kita harus beramal saleh dan saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran? Karena, di hampir semua ayat dalam Alquran kata iman selalu digandeng dengan kata amal saleh.
Kalau iman banyak berhubungan dengan garis vertikal, amal saleh dan kebajikan lain lebih sering berkaitan dengan sesuatu yang horizontal. Kedua konsep ini merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Apabila salah satu dari keduanya tiada maka kesempurnaan dari salah satunya akan berkurang.
Hal ini terlihat dari sabda Nabi SAW, “Allah tidak menerima iman tanpa amal perbuatan dan tidak pula menerima amal perbuatan tanpa iman.” (HR Ath-Thabrani). Seperti dalam firman-Nya, “Dan, orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.” (QS al-Baqarah [2]: 82).
Hal luar biasa adalah yang disebut dalam surah an-Nuur, bahwa Allah menjanjikan satu keadaan yang istimewa saat nilai keimanan dan amal saleh telah dihidupkan. Apalagi, sampai upaya luhur saling memberi nasihat kepada kebaikan dan kesabaran terus diciptakan. Pendeklarasian Allah, yaitu, “Bersiaplah untuk menjadi pemimpin di muka bumi!”
“Dan, Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan  yang beramal saleh, bahwa sungguh mereka akan 'memimpin' di muka bumi, sebagaimana orang-orang yang terdahulu sebelum mereka telah memimpin, dan sungguh Allah akan meneguhkan kedudukan agama mereka yang telah diridai oleh Allah untuk mereka. Juga akan diubah keadaan mereka oleh Allah sesudah mereka merasa ketakutan menjadi aman sentosa ...” (QS an-Nuur : 55).
Subhanallah, langkah strategis saat 'syahwat' memimpin sedang menggelayuti kita. Tidak harus berburu apalagi saling sikut. Kita hanya cukup bersiap dengan upaya menanamkan iman, amal saleh, dan terus berupaya saling menasihati kepada kebaikan dan kesabaran.
(republika.co.id)

Thursday, November 15, 2018

Hamba Kecintaan Allah

Dunia dan seisinya tidak berarti apa-apa dibandingkan cinta Allah dan menjadi hamba kecintaan-Nya. Ibadah terasa semangat, hati diliputi keikhlasan, tidak pernah menyimpan dendam ke pada siapa pun sekalipun dia dizalimi, hanya mengadu kepada Sang Khalik apabila masalah hidup menghampiri, doanya di dengar dan dikabulkan langsung oleh Allah tanpa menunggu lama.
Itulah spesialnya menjadi hamba kecintaan Allah. Bahagia menjadi hamba, semua ibadah dan larangan-Nya tidak pernah sekalipun menjadi beban. 

Hamba tersebut mencintai Allah, Allah mencintainya, dan pasti doanya dikabulkan-Nya. Kita yang beriman sejatinya berha rap itu terjadi kepada diri kita tanpa harus menunggu lama.

Ketika Kota Madinah sedang dilanda paceklik berkepanjangan, ada seorang laki-laki saleh yang membaktikan dirinya di Masjid Nabawi. Ketika penduduk kota berdoa, laki-laki saleh ini menanam dua buah pohon kurma, lalu shalat dua rakaat, kemudian menengadahkan tangannya seraya berdoa kepada Allah, "Ya Allah, aku bersumpah atas nama Engkau. Karuniakanlah kepada kami hujan meski sebentar saja."

Dia terus berdoa dan menengadahkan tangannya. Hingga akhirnya, datang awan mendung di atas Kota Madinah, kemudian hujan pun turun. Bah kan, karena hujannya turun cukup deras, penduduk Kota Madinah khawatir karena ha lilintar yang menggelegar. Laki-laki saleh itu pun berdoa, "Ya Allah, jika Engkau tahu bahwa hujan ini telah cukup untuk mereka, cukupkanlah hujan ini." Lalu, hujan pun seketika berhenti.

Kemudian, seorang bernama Muhammad ibn Suwaid mengikuti laki-laki saleh yang memanjatkan doa tadi hingga tempat perenungannya. Muhammad ibn Suwaid berkunjung kepadanya pada pagi hari. "Wahai Tuan Rumah," kata Muhammad. Tuan rumah men jawab, "Ya."
"Aku memiliki suatu keperluan kepadamu," ucap Muham mad ibn Suwaid. "Keperluan apakah itu?" jawab laki-laki itu. "Nasihatilah aku secara khusus tentang doa," kata Muhammad ibn Suwaid. "Mahasuci Allah! Engkau memintaku untuk memberimu sebuah nasihat khusus tentang doa?" jawabnya.
"Tentang apa yang telah engkau lakukan dan aku saksikan," kata Muhammad ibn Su waid menjawab. "Engkau melihatku?" tanya laki-laki itu. "Ya," jawab Muhammad ibn Suwaid. Laki-laki saleh itu menjelaskan, "Sesungguhnya aku hanya menaati segala yang Allah larang dan Allah perintahkan terhadapku. Kemudian, aku berdoa kepadanya dan Dia mengabulkan permintaanku."

Sungguh sangat istimewa. Kecintaan hamba kepada Allah dengan ikhlas pasti akan ber buah manis berupa terkabulnya doa dan permintaan. Bukankah kalau sudah cinta, apa pun juga ada serbamudah dan indah? Apalagi kecintaan kepada Allah yang hakiki akan berbuah kecin taan-Nya kepada kita. Lalu, apa yang sedang kita tunggu untuk mencintai Allah? Allah sudah begitu baik dan perhatian kepada kita. Tak ada yang menandingi kasih sayang dan kelembutan Allah kepada hamba-hamba-Nya

Tuesday, November 13, 2018

5 Doa Ini Bisa Membuat Anda Dikejar-Kejar Rezeki Berkah dan Melimpah

Ingin dikejar-kejar rezeki, gampang kok caranya..

Selain usaha keras, anda bisa dikejar-kejar rezeki jika sering mengamalkan 5 doa ini. Anda bisa buktikan sendiri..
Banyak orang yang telah berusaha sekuat tenaga dalam bekerja, namun hanya Allah yang menentukan hasilnya.
Bahkan tak jarang setelah berusaha keras dalam berikhtiar, rezeki yang diinginkan atau diharapkan tak kunjung tiba.
Meski rezeki sudah ada yang mengatur, namun untuk menjemputnya agar lebih cepat anda perlu mengamalkan beberapa doa ini.
Hal ini sudah banyak yang membuktikan dan hasilnya pun tak mengecewakan. Anda perlu coba
1. Doa Agar Rezeki Lancar
اَللَّهُمَّ يَاغَنِيُّ يَامُغْنِيْ أَغْنِنِيْ غِنًى أَبَدًا وَيَاعَزِيْزُ يَامُعِزُّ أَعِزَّنِيْ بِإِعْزَازٍ عِزَّةَ قُدْرَتِكَ وَيَامُيَسِّرَاْلأُمُوْرِ يَسِّرْ لِيْ أُمُوْرَ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ يَاخَيْرَ مَنْ يُرْجَى يَا اللهُ
Alloohumma yaa ghoniyyu yaa mughnii aghninii ginan abadan wa yaa ‘aziizu yaa mu’izzu a’izzani bi-i’zaazin ‘izzatia qudrotika, wa yaa muyassirol umuuri yassir lii umuurod dun-yaa waddiini yaa khoiro man yurjaa yaa allooh.
“Ya Allah, Dzat Yang Mahakaya dan memberikan kekayaan, berilah kekayaan yang abadi kepadaku. Wahai Dzat Yang Mahamulia dan yang memberikan kemuliaan, berilah kemuliaan kepadaku dengan kemuliaan kekuasaan-Mu. Wahai Dzat yang mempermudah semua urusan, berilah kemudahan kepadaku di dalam semua urusan dunia dan agama, wahai Dzat yang paling diharapkan, ya Allah.”
2. Doa Agar Rezeki Bertambah
اَللَّهُمَّ زِدْنَا وَلاَ تَنْقُصْنَا وَأَكْرِمْنَا وَلاَ تُوْهِنَا وَأَعْطِنَا وَلاَ تَحْرِمْنَا وَاٰثِرْنَا وَلاَ تُؤْثِرْ عَلَيْنَا وَأَرْضِنَا وَارْضَ عَنَّا
Alloohumma zidnaa wa laa tanqushnaa wa akrimnaa wa laa tuuhinaa wa a’athinaa wa laa tahrimnaa wa aatsirnaa wa laa tu’tsir ‘alainaa wa ardhinaa wardhoo ‘annaa.
“Ya Allah, tambahkanlah rezeki kepada kami, jangan Engkau kurangi. Muliakanlah kami dan jangan Engkau hinakan kami. Berilah kami dan jangan Engkau halangi kami. Pilihlah kami dan jangan Engkau tinggalkan kami, dan janganlah Engkau cegah kami.”
3. Doa Agar Diberi Rezeki Halal
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْئَلُكَ أَنْ تَرْزُقَنِيْ رِزْقًا حَلاَلاً وَاسِعًا طَيِّبًا مِنْ غَيْرِ تَعَبٍ وَلاَ مَشَقَّةٍ وَلاَ ضَيْرٍ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ
Alloohumma innii as-aluka an tarzuqonii rizqon halaalan waasi’an thoyyiban min ghoiri ta’abin wa laa masyaqqotin wa laa dhoirin innaka ‘alaa kulli syai-in qodiir.
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu agar melimpahkan rezeki kepadaku berupa rezeki yang halal, luas dan tanpa susah payah, tanpa memberatkan, tanpa membahayakan dan tanpa rasa lelah dalam memperolehnya. Sesunggunya Engkau berkuasa atas segala sesuatu.”
4. Doa Agar Diberi Rezeki yang Berkah
اَللّٰهًمَّ اَصْلِحْ لِيْ دِيْنِيْ وَوَسِّعْ لِيْ فِيْ دَارِيْ وَبَارِكْ لِيْ فِيْ رِزْقِيْ
Alloohumma ashlihli lii diinii wa wassi’lii daarii wa baarik lii fii rizqii.
“Ya Allah perbaikilah agamaku (yang menjadi pokok urusanku) lapangkanlah tempat tinggalku, dan berikanlah keberkahan pada rezekiku.”
5. Doa Agar Mendapat Rezeki yang Tak Disangka-sangka
رَبَّنَا اَنْزِلْ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ تَكُوْنُ لَنَا عِيْدًا ِلاَوَّلِنَا وَاٰخِرِنَا وَاٰيَةً مِنْكَ وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ
Robbanaa anzil ‘alainaa maa-idatan minas samaa-i takuunu lanaa ‘iidan li awwalinaa wa aakhirinaa wa aayatan minka warzuqnaa wa anta khoirur rooziqiin.
“Wahai Tuhan kami, turunkahlah kepada kami suatu hidangan dari langit (yang haru turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami, yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau, berilah kami rezeki, dan Engkau pemberi rezeki yang paling utama.”

Friday, November 9, 2018

Apa Sajakah Penghalang Rezeki?

Rezeki memang penuh teka-teki. Sering kali perputarannya di luar logika dan daya manusia. Sebagian orang berlimpahan harta, sedangkan sekelompok yang lain mesti hidup serbakurang.
Ada yang bersusah payah memeras keringat untuk mengais rezeki. Lalu, kenyataannya tak banyak yang ia dapat. Bahkan, tak jarang rezeki yang dinanti tak jua menghampiri. Sedangkan, di sisi lain terdapat kalangan yang sekali duduk, tanda tangan, jutaan bahkan miliaran rupiah begitu mudah berada di genggaman tangan.
“Begitulah rezeki," kata Syekh Mutawalli as-Sya'rawi dalam bukunya yang berjudul Tilka Hiya al- Arzaq.Menurut tokoh jebolan Universitas al-Azhar Mesir itu, perbedaan rezeki antarmanusia merupakan hak otoritatif Allah SWT. Pun, soal kadar rezeki yang diberikan. Terkadang, Allah memberikan jumlah di luar angka yang diprediksikan.
Dan Allah memberi rezeki kepada orang yang dikehendaki tanpa batas. (QS al-Baqarah [2]: 212). Tetapi, tampaknya dalam karyanya itu, Syekh Mutawalli tidak bermaksud memaparkan lebih jauh hal ihwal rezeki.
Ini wajar lantaran buku tersebut memang merupakan bunga rampai dari refleksi seorang pakar tafsir sekaligus ahli bahasa tentang apa rahasia di balik rezeki yang merujuk pada ayat-ayat Alquran.
Benar, rezeki adalah rahasia Ilahi. Akan tetapi, kata seorang tokoh generasi salaf, Abu Abdullah Muhammad bin Abdurrahman bin Umar al-Wishabi al- Husyaibi, ada unsur keterlibatan manusia di sana.
Tokoh yang wafat pada 782 H tersebut memaparkan bahwa dalam konsep teologi Islam, rezeki seseorang tidak berdiri sendiri. Ada hubungan kausalitas, sebab musabab. Ingin rezeki banyak, maka bergeraklah dan berdinamika mengais rezeki.
Namun, di saat bersamaan, ingatlah, tutur pengarang kitab al-Barakah fi Fadhl as-Sa'yi wa al-Harakah ini, ada beberapa faktor penghalang rezeki yang diakibatkan oleh ulah para pencari rezeki itu sendiri. Sederet perkara tersebut mesti dihindari agar rezeki tidak terhambat.
Apa sajakah hal-hal yang bisa membuat rezeki seret, bahkan bisa menyeret seseorang dalam jurang kemiskinan? Beberapa perkara itu, di antaranya :
Pertama, jangan sesekali pernah mencaci maki angin, hujan, atau fenomena alam apa pun. Karena, sejatinya tindakan itu sama saja dengan mencibir penciptanya. Seorang sahabat dikisahkan pernah mengadu kepada Rasulullah SAW perihal rezeki yang seret. Barangkali engkau pernah mencela angin, ungkap Rasul.
Kedua, enggan berbagi air atau ragi. Ibnu Abbas RA pernah bertutur, menolak memberi ragi menyebabkan kefakiran dan pelit berbagi air hanya akan membuahkan penyesalan. Penegasan ini juga disampaikan dalam hadis Rasul bahwa ada lima hal yang mesti berbagi, bila tidak maka ia akan terhalang dari kebaikan kelak di akhirat, yaitu air, garam, api, jarum, dan ragi.
Ketiga, terlalu banyak tidur atau bersantai-santai. Dampak tidur, seperti yang digambarkan seorang syair sebagai berikut: Kebahagian manusia saat mengenakan pakaian. Lalu, meraih kebaikan hanya dengan meninggalkan tidur.
Keempat, tindakan zalim dan kemaksiatan. Sikap zalim itu baik yang dilakukan oleh individu ataupun terstuktural yang melibatkan rezim. Kezaliman dalam suatu kaum itu telah mengibatkan tumbangnya sebuah komunitas, seperti yang ditujukan pada kaum-kaum terdahulu sebagai peringatan. (QS Yunus [10]: 13 dan al-Kahfi [18]: 59). Di antara bentuk kezaliman itu yang paling parah ialah aksi kriminalitas menghilangkan nyawa orang lain yang tak berdosa atau memakan harta orang lain secara batil.
Kelima, zina. Rasul menegaskan bahwa zina akan memutuskan jalan rezeki, mengurangi keberkahan usia, memekatkan wajah, dan mengantarkan pada siksa neraka. Keenam, praktik riba. Rasulullah menyatakan, harta yang diperoleh dari praktik riba sekalipun tampaknya bertambah, sejatinya harta tersebut semakin berkurang.
Keenam, kecurangan berjual beli, seperti mengurangi timbangan atau ukuran. Termasuk kategori curang, yakni memonopoli penjualan barang tertentu yang menjadi kebutuhan masyarakat.
Kecaman terhadap para pelaku curang ketika bertransaksi itu diabadikan di surah al-Muthaffifin. Tokoh salaf Laits bin Abdurrahman mengatakan, ada empat perkara yang bisa membinasakan suatu kaum, di antaranya, merebaknya praktik curang, mengurangi timbangan atau ukuran sewaktu jual beli.
Ketujuh, pengkhianatan dalam bentuk dan kasus apa pun. Berkhianat, seperti ditegaskan oleh Rasul dalam sebuah riwayat, akan mendatangkan kefakiran. Begitu sebaliknya, komitmen menjaga amanat merupakan daya magnet luar biasa atas rezeki.
Kedelapan, sikap rakus dan tamak terhadap dunia. Tamak hakikatnya adalah kefakiran yang segera datang, titah Rasulullah. Allah memberikan rezeki kepada orang yang dikhendaki tanpa batas. Dan, masih banyak lagi faktor penghalang rezeki yang mesti dihindari agar rezeki deras mengalir.
Kesemuanya itu, kata al-Hubaisyi, bertumpu pada maksiat kepada Allah SWT ataupun makhluk-Nya. Seseorang akan terhalang dari pintu rezeki akibat dosa yang ia perbuat, tulis al-Hubaisyi mengutip sabda Rasulullah SAW.
(sumber : khazanah republika.co.id

Thursday, October 18, 2018

6 Kunci Rahasia Untuk Menggapai Surga Firdaus

Surga merupakan tujuan daripada kehidupan di dunia yang sementara ini. Namun, untuk mendapatkan surga tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan, harus ada proses yang dilalui. Pun, surga hanya diberikan sebagai balasan bagi orang-orang yang melaksanakan perintah Allah Ta’alaa saja, bukan untuk orang yang ingkar dan lalai.
Mengenai surga, ada tingkatan-tingkatannya. Salah satunya adalah Surga Firdaus. Surga ini tentu menjadi mimpi bagi setiap orang muslim, mengapa? Karena surga ini adalah surga yang paling utama dan paling tinggi kedudukannya. Adakah cara untuk mendapatkannya? Tentu saja ada. Berikut ini penjelasan dari Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal.
Allah Ta’ala berfirman,
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ (2) وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ (3) وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ (4) وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (5) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (6) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (7) وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ (8) وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ (9) أُولَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ (10) الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (11)
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi syurga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Mu’minun: 1-11)
Dari ayat di atas, untuk masuk dalam surga Firdaus, ada enam sifat yang harus kita miliki.
Pertama: Khusyu’ dalam shalat
Khusyu’ artinya berdiri di hadapan Allah dalam keadaan tunduk, merendahkan diri dan tenang. Dulu para sahabat biasa mengangkat pandangannya ke langit-langit dalam shalat. Ketika turun awal surat Al-Mu’minun (ayat 1 dan 2), barulah mereka menundukkan pandangan mereka dengan memandang ke tempat sujud.
Ibnu ‘Abbas menyatakan bahwa khusyu’ itu berarti tenang. ‘Ali bin Abi Thalib menyatakan bahwa khusyu’ itu berarti khusyu’nya hati. Al-Hasan Al-Bashri menyatakan bahwa khusyu’ itu dalam hati yang membuat anggota tubuh kita menjadi ikut tunduk. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5: 448.
Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan dalam halaman yang sama bahwa khusyu’ itu bisa digapai jika hati kita tidak memikirkan hal-hal di luar shalat, dan mementingkan shalat saja daripada berbagai perkara di luar shalat.
Khusyu’ sendiri ada dua macam, yaitu khusyu’ pada lahiriyah dan khusyu’ dalam batin.
Khusyu’ pada lahiriyah bisa digapai dengan keadaan yang tenang dan tidak banyak melakukan gerakan sia-sia dalam shalat (seperti memandang ke langit-langit, menoleh kanan-kiri, banyak gerak yang tidak berguna dan tidak dibutuhkan). Khusyu’ lahiriyah juga bisa dicapai dalam bentuk tidak mendahului, berbarengan dan telat dari imam karena yang diperintahkan adalah mutaba’ah (mengikuti) imam.
Khusyu’ dalam batin bisa digapai dengan menghayati kebesaran Allah, memikirkan makna ayat, dzikir dan do’a dalam shalat, dan tidak peduli pada was-was setan.
Para ulama katakan bahwa khusyu’ itu dibangun dari dalam batin dan akan berpengaruh pada jawarih (anggota badan). Jika kekhusyu’an dalam hati itu kurang, maka akan nampak pada anggota badan. Namun ingat, menampak-nampakkan diri kita khusyu’ tidak disukai karena tanda ikhlas adalah menyembunyikan kekhusyu’an. (Lihat bahasan dalam kitab Irsyadul Musholli, hlm. 228-229)
Semoga Allah menjadikan kita memiliki shalat yang khusyu’ yang jadi suatu kenikmatan dan penyejuk pandangan.
Kedua: Menjauhkan diri dari hal yang tidak berguna
Maksudnya di sini adalah menjauhkan diri dari kebatilan, termasuk kesyirikan. Juga termasuk menjauhkan diri dari perkataan dan perbuatan yang tidak berfaedah. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5: 449. Syaikh As-Sa’di menyatakan bahwa jika dari yang sia-sia saja dijauhi, maka yang haram lebih pantas dijauhi. Lihat Tafsir As-Sa’di, hlm. 576.
Ketiga: Menunaikan zakat
Yang dimaksud di sini adalah menunaikan zakat maal, yaitu zakat dari harta jika memang sudah terpenuhi syarat nishab dan syarat haul (bertahan selama satu tahun).
Perintah menunaikan shalat dengan khusyu’ dan menunaikan zakat menunjukkan bahwa kita tidak hanya mementingkan ibadah pada Sang Khaliq, namun juga hendaklah berbuat baik pada sesama dengan menolong yang susah lewat zakat. Lihat Tafsir As-Sa’di, hlm. 576.
Keempat: Menjaga kemaluan dari zina
Sifat keempat ini adalah mereka menjaga kemaluannya dari zina. Termasuk dalam hal ini kata Syaikh As-Sa’di rahimahullah adalah menjaga diri hal-hal yang mengantarkan pada zina seperti memandang lawan jenis (dengan syahwat) dan bersentuhan dengan lawan jenis. Kemaluan tadi dijaga pada setiap orang kecuali pada istri dan budak yang halal untuknya.
Baca Juga : Jangan Sampai Terjebak, Inilah 6 Tahapan yang Dilakukan Syaithan Untuk Menjerumuskan Manusia!
Ini juga jadi dalil kata Syaikh As-Sa’di bahwa nikah mut’ah (kawin kontrak) itu haram seperti yang dilakukan oleh orang Syi’ah (Rafidhah). Pada kawin kontrak yang dinikahi adalah bukan istri sejati yang maksudnya untuk tetap selamanya. Lihat bahasan dalam Tafsir As-Sa’di, hlm. 576.
Hakikat nikah mut’ah adalah zina berkedok nikah.
Ibnu Katsir menyatakan bahwa ayat ini juga menunjukkan larangan melakukan liwath (hubungan yang dilakukan dengan sesama jenis) seperti yang terjadi di masa Nabi Luth ‘alaihis salam. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5: 449.
Ayat ini menunjukkan larangan untuk melakukan onani, yaitu mengeluarkan mani secara paksa dengan tangan. Ini jadi dalil dari Imam Syafi’i rahimahullah dikarenakan dalam ayat hanya dibolehkan syahwat dengan kemaluan disalurkan pada istri atau hamba sahaya yang dimiliki. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5: 450.
Kelima: Memperhatikan amanat dan janji
Sifat orang beriman lagi tidaklah meniru sifat orang munafik. Sifat orang beriman adalah ketika diberi amanat, ia tidak khianat; ketika berjanji dan membuat akad, maka ia menunaikannya.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مِنْ عَلاَمَاتِ الْمُنَافِقِ ثَلاَثَةٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ
Di antara tanda munafik ada tiga: jika berbicara, dusta; jika berjanji, tidak menepati; jika diberi amanat, ia khianat.” (HR. Muslim, no. 59)
Dalam riwayat lain disebutkan,
آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ وَإِنْ صَامَ وَصَلَّى وَزَعَمَ أَنَّهُ مُسْلِمٌ
Tanda munafik itu ada tiga, walaupun orang tersebut puasa dan mengerjakan shalat, lalu ia mengklaim dirinya muslim.” (HR. Muslim, no. 59)
Keenam: Menjaga shalat
Sifat yang terakhir adalah mereka merutinkan shalat pada waktunya. Dalam hadits disebutkan, “Ibnu Mas’ud pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
أَىُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ « الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا » . قَالَ ثُمَّ أَىُّ قَالَ « ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ » .قَالَ ثُمَّ أَىّ قَالَ « الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ »
“Amalan apa yang paling dicintai oleh Allah?”
Jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Shalat pada waktunya.”
“Kemudian apa lagi?” tanya Ibnu Mas’ud.
Jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kemudian berbakti pada kedua orang tua.”
“Kemudian apa lagi?” tanya Ibnu Mas’ud.
Jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari, no. 5970 dan Muslim. no. 85)
Wallahu a’lam bish shawab.

Tuesday, August 21, 2018

8 Hal Ini Bisa Membuat Kita Dicintai Penduduk Langit

ALLAH yang maha berkendak atas kejadian hamba-Nya, karena Allah Menciptakan segala yang ada di bumi dan di langit. Dia bisa membuat hamba menjadi mulia atau terhina, tergantung pada ikhtiar dan keistiqomahan yang ada pada diri setiap hamba.
Setiap umat manusia secara logika sehatnya pasti menginginkan posisi yang mulia di hadapan manusia lainnya. Namun, mulia di mata manusia tidak menjamin menjadi mulia di hadapan Allah. Oleh karena itu, sebagian besar umat Islam berharap untuk meraih ridha Allah dan menjadi mulia disisi-Nya.
Ketika Allah menjadikan hamba-Nya mulia, maka mulia pula lah hamba-Nya dihadapan penduduk langit dan bumi. Sebagaimana hadits berikut ini.
Apabila Allah mencintai seorang hamba, Dia akan memanggil jibril,seraya berkata…”Sungguh Aku mencintai fulan, maka cintailah ia”. Jibripun bergegas dgn serta merta mencintainya, dan berseru dgn lantang pada penghuni langit “Allah mencintai si fulan, maka cintailah ia…!!!”. Penghuni langitpun seketika itupun mencintainya.Setelah itu di bumi, ia pun di cintai manusia “. (HR Muslim)
Baca Juga : Abu Bakar Ash-Shidiq Mukmin yang Paling Sempurna Imannya
Adapun sebagai menambah wawasan dan mengintropeksi diri kita secara pribadi, berikut ciri-ciri hamba yang disayangi Allah dan terkenal oleh penduduk langit.
1. Orang yang Menyayangi
Rasulullah bersabda:
الرَّاحمُونَ يَرحمُهُم الرّحمنُ تبارك وتعالي ارْحَموا مَنْ في الأرض يرحمْكُم من في السَّماءِ
"Sayangilah makhluk yang ada dibumi, niscaya yang ada dilangit akan menyayangimu”. (Hadits Shahih, Riwayat ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir, Lihat Shahiihul jaami’ no. 896).
“Sesungguhnya Allah menyayangi hamba-hambaNya yang penyayang“(HR Bukhori Muslim).
2. Senantiasa Mensucikan Diri
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mensucikan diri”. (QS Al-Baqarah: 222)
3. Diberikan Ujian
“Bila Allah mencintai suatu kaum maka Dia memberikan mereka ujian (dengan berbagai musibah)”. (HR Ahmad).
4. Bertakwa
“Maka sungguh, Allah mencintai hamba hamba-Nya yang bertakwa.” (QS Ali Imran: 76).
5. Senantiasa Bersabar
“Dan Allah mencintai hamba hambaNya yang sabar.” (QS Ali Imran: 146).
6. Orang-orang yang Mengikuti Rasul
“Katakanlah kalau kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku (Rasulullah) niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa dosa kalian…” (QS Ali Imran: 31).
7. Berperang Membela Agama Allah
“Sesungguhnya Allah mencintai hamba hamba-Nya yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS Shaff: 4).
8. Berbakti kepada Ibunya
Rasulullah pernah bersabda, ketika itu SitiAisyah ra, menerima tamu yang ingin berjumpa dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Salam. Namun dikarenakan ibunya sudah tua dan sakit-sakitan, dan ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. Maka ia putuskan untuk segera pulang kembali ke Yaman tanpa mencapai tujuannya berjumpa Rasulullah. Setelah mengetahui hal tersebut Rasulullah bersabda: “Uwais Al-Qarni anak yang taat kepada ibunya, adalah penghuni langit, Wallahu A’lam Bish-showab. []

SUMBER: HIJAZ.ID

Tuesday, August 14, 2018

Bersama Kesulitan Ada Kemudahan

Dunia memang sengaja Allah Ta’ala ciptakan sebagai tempat ujian, tidak satu sisipun dibelahan dunia yang dihuni manusia tanpa adanya ujian. Baik yang tidak beriman maupun yang beriman semua mendapat bagian yang sama didalam menerima ujian. Orang beriman semakin bertambah keimanannya semakin berat pula ujian yang diterimanya.
Semua bentuk ujian dari semua sisi, baik berupa kekayaan harta maupun kekurangan harta, karena dengan itu Allah Ta’ala ingin menseleksi siapa diantara hambanya yang terbaik amalnya. Allah Ta’ala, berfirman:
الَّذِى خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
“yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun,” (QS. Al-Mulk 67: Ayat 2)
Ayat diatas memberi penjelasan kepada kita bahwa Allah Ta’ala tidak menyebutkan banyak amalnya tetapi yang baik amalnya, baik menurut para mufasir adalah sesuai perintah Allah dan contoh NabiNya, Artinya kwalitas lebih utama daripada kwantitas, namun jika kwalitas sudah baik ditambah dengan kwantitas itu yang paling utama.
Namun dibalik ujian berupa banyak kesulitan dan penderitaan ada kemudahan yang mengiringinya. Allah Ta’ala berfirman,
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan,” (QS. Al-Insyirah 94: Ayat 5)
Allah Ta’ala menceritakan bahwa sesungguhnya sesudah kesulitan pasti ada kemudahan, kemudian berita ini diulangi-Nya lagi.
قَالَ ابْنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنَا ابْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى حَدَّثَنَا ابْنُ ثَوْرٍ عَنْ مَعْمَر عَنِ الْحَسَنِ قَالَ: خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا مَسْرُورًا فَرِحًا وَهُوَ يَضْحَكُ وَهُوَ يَقُولُ: “لَنْ يَغْلِب عُسْر يُسْرَيْنِ لَنْ يَغْلِبَ عُسْرٌ يُسْرَيْنِ فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا”.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abdul A’la, telah menceritakan kepada kami Ibnu Saur, dari Ma’mar, dari Al-Hasan yang mengatakan bahwa di suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dalam keadaan senang dan riang seraya tersenyum, lalu bersabda: Satu kesulitan tidak akan dapat mengalahkan dua kemudahan, satu kesulitan tidak akan dapat mengalahkan dua kemudahan. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
Dan termasuk di antara nasihat yang bersumber dari Imam Syafii disebutkan sebagai berikut:
صَبرا جَميلا مَا أقرَبَ الفَرجا … مَن رَاقَب اللَّهَ فِي الْأُمُورِ نَجَا …
مَن صَدَق اللَّهَ لَم يَنَلْه أذَى … وَمَن رَجَاه يَكون حَيثُ رَجَا …
Bersabarlah dengan kesabaran yang baik, maka alangkah dekatnya jalan kemudahan itu. Barang siapa yang merasa dirinya selalu berada dalam pengawasan Allah dalam semua urusan, niscaya ia akan selamat.
Dan barang siapa yang membenarkan janji Allah, niscaya tidak akan tertimpa oleh musibah. Dan barang siapa yang berharap kepada Allah, maka akan terjadilah seperti apa yang diharapkan.
Ibnu Duraid mengatakan bahwa Abu Hatim As-Sijistani telah membacakan bait-bait syair berikut kepadanya, yaitu:
إِذَا اشْتَمَلَتْ عَلَى الْيَأْسِ القلوبُ … وَضَاقَ لِمَا بِهِ الصَّدْرُ الرحيبُ …
وَأَوْطَأَتِ الْمَكَارِهُ وَاطْمَأَنَّتْ … وَأَرْسَتْ فِي أَمَاكِنِهَا الخطوبُ …
وَلَمْ تَرَ لِانْكِشَافِ الضُّرِّ وَجْهًا … وَلَا أَغْنَى بحيلته الأريبُ
أَتَاكَ عَلَى قُنوط مِنْكَ غَوثٌ … يَمُنُّ بِهِ اللَّطِيفُ المستجيبُ …
وَكُلُّ الْحَادِثَاتِ إِذَا تَنَاهَتْ … فَمَوْصُولٌ بِهَا الْفَرَجُ الْقَرِيبُ …
Bilamana hati dipenuhi oleh rasa putus asa, dan dada yang luas menjadi terasa sempit, dan hal-hal yang tidak disukai datang menimpa diri, serta banyak musibah yang dialaminya, sehingga ia tidak melihat adanya celah untuk melepaskan diri dari bahaya yang sedang menimpa diri, dan tiada gunanya lagi semua upaya untuk menanggulanginya. Maka akan datanglah kepadamu pertolongan bila hatimu berserah diri kepada-Nya, yaitu pertolongan dari Tuhan Yang Maha lembut lagi Maha Memperkenankan doa. Semua musibah apabila telah mencapai puncaknya pasti berhubungan langsung dengan jalan keluarnya yang tidak lama.
Wallahu a’lam
Abu Miqdam
Komunitas Akhlaq Mulia

Tuesday, July 24, 2018

Syair Imâm Syâfi’i: “Jangan Remehkan Kehebatan Panah Malam (Do’a)”


Imâm Syâfi’i rahimahullâh (wafat: 204-H) berkata dalam bait syairnya:

أَتَهْزَأُ بِالدُّعَاءِ وَتَزْدَرِيْهِ ** وَمَا تَدْرِيْ بِمَا صَنَعَ الْدُّعَاءُ

“Apa engkau mencemooh do’a dan meremehkannya? ** Kau tidak tahu apa yang mampu dilakukan oleh do’a.”

سِهَامُ اللَّيْلِ لاَ تُخْطِي ** لَهَا أَمَدٌ وَلِلْأَمَدِ انْقِضَاءُ

“Panah malam (yakni: dua tangan yang menengadah pada Allâh di malam hari) tak akan pernah kembali dengan sesuatu yang hampa ** Dia memiliki tujuan, dan setiap tujuan pasti memiliki akhir pemberhentian.”
Bait syair di atas menggambarkan betapa do’a, bagi seorang mukmin, merupakan harapan terbesar yang senantiasa ada menemani dalam setiap problem kehidupan yang dihadapinya. Ketika tidak sedikit orang telah pupus dalam harapan, hancur dalam mimpi dan asa, seorang mukmin selalu optimis dan yakin bahwa di sana selalu ada jalan untuk keluar, selalu ada keajaiban ilahi yang bisa terjadi melalui do’a. Bukankah Allâh, sebagai Pemilik alam semesta ini dengan segenap keajaibannya telah mengikrarkan sebuah janji:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ
“Dan jika hamba-Ku bertanya padamu tentang-Ku, maka ketahuilah bahwasanya Aku ini dekat. Aku menjawab setiap do’a dari orang yang berdo’a hanya kepada-Ku.” [QS. Al-Baqarah: 186]
Jangan pernah menyangka bahwa do’a hanya datang dengan hasil nihil. Tidak jarang, apa yang mampu dihasilkan oleh do’a justru lebih besar dan lebih bermanfaat dari apa yang kita pinta dalam do’a tersebut. Kalaupun jawaban dari suatu panjatan do’a tidak sesuai dengan harapan, maka yakinlah bahwa ganjaran pahala yang dihasilkan oleh do’a yang tulus pada ilahi, pasti memiliki nilai yang jauh lebih besar.
Itu sebabnya ‘Umar bin Khaththab radhiallâhu’anhu mengatakan:
“Demi Allâh, aku tidak terlalu perduli dengan hasil atau jawaban dari do’aku, karena itu ada di tangan Dzat yang Mahakuasa, yang aku pikirkan dan senantiasa harapkan adalah kesempatan untuk bisa selalu berdo’a, karena jika aku telah diberi taufik untuk berdo’a, maka jawaban itu pasti adanya (entah itu sesuai harapan atau tidak, karena boleh jadi, apa yang kita harapkan belum tentu baik bagi kita. Allâh-lah yang Mahamengetahui, jawaban apa yang terbaik bagi seorang hamba dengan do’anya).”