Alvin Toffler (October 4, 1928 – June 27, 2016) dalam "Future Shock" menulis tiga level kekuasaan.
Yang paling rendah mutunya adalah "Power of Muscle", kekuasaan yang dibangun dengan kekuatan, daya paksa, intimidasi, senjata, militer, di masa lalu: dengan orang-orang sakti. Namun sesakti apapun seorang diktator, suatu ketika akan tua, lemah dan mati. Kekuasaan yang pernah dimiliki Fir'aun, Jenghiz Khan, Kemal Attaturk, Hitler ataupun Stalin, faktanya sekarang sudah tidak ada lagi, bahkan masyarakat di sana tidak banyak lagi yang mencintai figur-figur tersebut. Memang power of muscle ini bisa cepat meraih kekuasaan, misalnya melalui kudeta atau invasi militer. Namun sulit untuk mempertahankannya dalam jangka panjang.
Yang sedikit di atasnya adalah "Power of Money", kekuasaan yang dibangun dengan politik uang, dispensasi ekonomi, sogok, jual beli suara, jual beli undang-undang. Uang bahkan bisa untuk membeli para pendekar sakti, sehingga mereka saling bertarung sesamanya. Itulah yang terjadi di nusantara dulu. Uang juga bisa untuk menyuap penjaga tembok Cina, sehingga tentara asing tidak perlu susah payah menaiki ataupun menjebol tembok, karena dibuka dengan suka cita oleh para penjaganya. Power of money inilah yang lazim terjadi di sistem demokrasi. Yang punya uang berlimpah bisa membeli media, bisa membayar opinion leader, bisa melobby politisi dan birokrat, dan bisa membuat aktivitas populer untuk rakyat jelata agar memilihnya. Inilah fakta sistem demokrasi kapitalis. Namun sekaya apapun seorang demokrat kapitalis, suatu hari nanti akan surut juga sumber-sumber keuangannya - walaupun mungkin lebih lama dari seorang diktator.
Yang paling bermutu adalah "Power of Mind", kekuasaan yang dibangun dengan pemikiran, dengan ide, dengan cita-cita. Itulah kekuasaan yang dimiliki para revolusioner, para pejuang, dan juga para Nabi. Mereka yang berubah pikirannya, akhirnya memberikan segalanya: cinta, kesetiaan, uang, tenaga, bahkan nyawa. Para Nabi dan revolusioner itu bukan orang yang paling sakti maupun paling kaya pada zamannya. Tetapi ribuan orang sakti dan orang kaya bersama-sama mendukungnya.
Nah, peradaban Islam adalah peradaban yang dibangun dengan pemikiran, didasari aqidah Islam, tsaqafah Islam, fikrul Islam. Berbeda dengan senjata atau uang yang bisa langsung diwariskan, pemikiran hanya dapat diwariskan dengan pendidikan, dengan dakwah. Oleh karena itu, selama ada dakwah, maka peradaban Islam akan bertahan, bahkan makin kuat.
Oleh karena itu, cara musuh-musuh Islam menghancurkan peradaban Islam adalah dengan menggembosi dakwah. Caranya adalah:
1. Menciptakan aktivitas kompetitor dari dakwah, sehingga aktivitas dakwah menjadi kurang menarik, membosankan, menakutkan. Kalah dengan pertandingan olahraga, pagelaran budaya atau mentoring-bisnis.
2. Menjauhkan para pengemban dakwah dari dakwah, dengan melibatkan mereka pada aktivitas politik praktis oportunis atau bisnis kapitalis.
3. Menurunkan reputasi para pengemban dakwah, ketika mereka dijebak dalam maksiat, korupsi, pelecehan seksual, atau ketika mereka tanpa sadar ikut menyebarkan dusta (hoax).
4. Memunculkan "pengemban dakwah alternatif" yang lebih "soft", "gaul", "sesuai zaman", "moderat", bahkan "liberal", "ramah LGBT", "ramah terhadap Barat", dan sejenisnya.
5. Menyingkirkan pengemban dakwah sejati yang masih tersisa, menstigma dengan "teroris", "anti NKRI", "radikal" dan sebagainya.
1. Menciptakan aktivitas kompetitor dari dakwah, sehingga aktivitas dakwah menjadi kurang menarik, membosankan, menakutkan. Kalah dengan pertandingan olahraga, pagelaran budaya atau mentoring-bisnis.
2. Menjauhkan para pengemban dakwah dari dakwah, dengan melibatkan mereka pada aktivitas politik praktis oportunis atau bisnis kapitalis.
3. Menurunkan reputasi para pengemban dakwah, ketika mereka dijebak dalam maksiat, korupsi, pelecehan seksual, atau ketika mereka tanpa sadar ikut menyebarkan dusta (hoax).
4. Memunculkan "pengemban dakwah alternatif" yang lebih "soft", "gaul", "sesuai zaman", "moderat", bahkan "liberal", "ramah LGBT", "ramah terhadap Barat", dan sejenisnya.
5. Menyingkirkan pengemban dakwah sejati yang masih tersisa, menstigma dengan "teroris", "anti NKRI", "radikal" dan sebagainya.
No comments:
Post a Comment